Barongsai Mini Pak Sipin Terjual hingga Malaysia
- u report
VIVA.co.id - Namanya Sipin, usianya menjelang 46 tahun. Melihat raut wajahnya, terutama mata sipitnya, dia mungkin termasuk orang peranakan berdarah Tionghoa. Itu diperkuat dengan rumah tinggalnya, di Kampung Magersari-Grajen, kota Rembang, Jawa Tengah. Sejak ratusan tahun silam, kampung itu dikenal sebagai Pecinan Rembang.
Nama Sipin, mungkin kependekan dari She Fien, nama khas orang Tionghoa. Sementara daerah pesisir Pantai Utara (Pantura) di Provinsi Jawa Tengah, dari Cirebon, Tegal, Pekalongan, Semarang, Kudus, Pati, Rembang sampai Lasem, merupakan komunitas bermukim warga Tionghoa.
Pak Sipin, begitu sebaiknya kita panggil, waktu ditemui sedang menggelar lapak kaki limanya, di kompeks wisata Taman Kartini, Rembang yang beberapa waktu ini berganti nama menjadi lokasi wisata Dampoawang Beach. "Ya, beginilah sehari-hari saya mencari nafkah selama lebih 15 tahun terakhir. Menjual mainan mini barongsai hasil buatan saya sendiri dibantu orang rumah (isteri)," ujarnya membuka percakapan dengan nada familiar. "Saya harus ramah dengan siapa saja jika ingin dagangan saya laku. Mana mungkin pembeli mau membeli mainan ini kalau saya galak," tambahnya saat ditanya mengapa dengan orang yang baru dikenal dia berlaku amat ramah.
Tentang usahanya, membuat dan menjual mainan anak-anak barongsai mini, Pak Sipin bercerita. Sebelumnya, dia hanya menjual mainan itu setelah membelinya dari dua atau tiga pembuat atau pedagang besar dari beberapa kota. "Waktu itu saya ambil barongsai mini dari kota Semarang dan Jakarta, tetapi malah sering menimbulkan masalah dan membuat susah. Banyak pembeli komplain pada saya, karena baru dua-tiga kali dipakai bermain oleh anak, sudah rusak tak karuan," kata Pak Sipin.
Menghadapi komplain itu, Pak Sipin repot dan bingung. Jika diabaikan tak ditanggapi, citranya sebagai pedagang barongsai mini jadi rusak. Lama-lama orang enggan membeli mainan tersebut darinya. Sebaliknya, jika harus menanggung komplain itu, bisa-bisa dia tidak dapat untung malah buntung terus-terusan. Akan berpindah bisnis, berdagang jenis mainan anak-anak lainnya, Pak Sipin tak berani. Sebab namanya sebagai pedagang barongsai mini sudah terkenal di mana-mana, hampir di seluruh Indonesia.
Akhirnya diputuskan, membuat mainan barongsai mini sendiri dengan produk lebih berkualitas. Meski selisih harga jualnya lebih dua kali lipat dari barongsai mini buatan orang lain. Pak Sipin waktu itu harus pergi ke Jakarta, Semarang, Tuban dan Surabaya untuk menimba ilmu cara membuat barongsai mini. Terutama pada bagian kepala barongsai, cukup rumit proses pembuatannya.
Bahan-bahan utamanya, harus dari kertas pilihan. Lem perekat, mesti lem merek bagus. Proses pengeringan, perlu waktu cukup hingga betul-betul kering. Pengecatan dan lukisan kepala barongsai dibuat lebih halus dan warna-warni, tapi tak meninggalkan ornamen khas ala Tiongkok.
Modifikasi dilakukan Pak Sipin atas barongsai mini buatannya. Berupa penambahan celana panjang. Barongsai mini buatan orang lain tidak disertai celana panjang. Buatan Pak Sipin, dilengkapi celana berbulu, warnanya disesuaikan dengan warna dominan kepala barongsai. Saat celana dikenakan anak yang tengah memainkan barongsai mini, maka gerakan dan permainan barongsai jadi kelihatan hidup dan menarik.