Demi Gaji Layak, Beranikah Perawat Mogok Nasional?
Menurut hemat penulis, teman saya ini ada benarnya juga. Namun, terlepas dari semua itu, ada lagi profesi yang diberi kelebihan upah oleh pemerintah yaitu TNI dan Polri. Ya, bisa dikatakan semua profesi ini memang layak mendapatkan hal itu karena perannya masing-masing. Namun bagaimana dengan perawat? Di Amerika dan beberapa negara lainnya, profesi perawat masuk dalam lima besar profesi dengan penghasilan tertinggi. Tetapi di Indonesia, perawat di komunitas diberi tunjangan dengan pisang dan hasil kebun warga pedalaman.
Saya membayangkan apa yang dirasakan oleh senior-senior saya, ketika mereka selesai melaksanakan salat Idul Fitri lalu harus bergegas kembali ke rumah sakit. Betapa makna lebaran pun hilang begitu saja dengan rasa tanggung jawab profesi. Pramugari bicaranya lembut, enak, dan sangat komunikatif karena dibayar mahal. Begitupun pegawai bank, hanya melewati training beberapa bulan ia sudah mampu membangun komunikasi yang baik dengan nasabahnya.
Nah, di sini penulis melihat apakah perawat di beberapa tempat itu jutek karena murah upahnya? Bisa jadi begitu kesimpulannya. Karena sepengetahuan penulis, perawat itu dalam studinya ada yang dinamakan mata kuliah Komunikasi Trapeutik. Bahkan di setiap tindakannya, diwajibkan untuk melakukan komunikasi trapeutik. Jadi, ketika ada masalah saat aplikasinya di lapangan maka yang patut ditinjau adalah sistem dan manusianya pula.
Kita juga harus akui jika perawat di rumah sakit swasta dengan gaji yang tinggi, pelayanannya pun sama spesialnya dengan pelayanan nasabah dengan pihak bank. Jadi tidak ada salahnya juga penulis menduga (tidak berkesimpulan) bahwa kurang komunikatif wajah sampai tutur kata sebagian perawat hal ini diakibatkan gajinya.
Ya, memang agak lucu sih, tetapi perlu digarisbawahi jika perawat juga manusia. Kesejahteraan perawat bukanlah isu penting di negeri ini. Bahkan untuk mengesahkan RUU Keperawatan saja butuh perang propaganda yang memakan waktu bertahun-tahun. Apalagi soal uang, peran organisasi profesi, juga tak semasif yang diharapkan.
Penulis melihat, jika di kurikulum keperawatan sepertinya harus dimasukan juga pendidikan politik. Sebab kurang pengetahuan dan merasa alergi dengan dunia politiklah maka secara politik pula perawat tak punya gebrakan di Senayan. Jika kita memang butuh kesejahteraan di balik tuntutan mutu pelayanan oleh masyarakat dan negara, maka kita harus berani membuat gebrakan dengan mogok nasional.