Pentingkah Mengantar Anak ke Sekolah?
- U-Report
Tanpa ayah di hari pertama sekolah.
Khairul Agung seorang bocah di sebuah desa yang menyakini pamali tersebut sudah menginjak usia sekolah. Maka ia didaftarkan oleh ibunya untuk masuk sekolah. Tapi sebelum mendaftarkannya, sang ibu bertanya tentang sekolah mana yang diminati oleh Agung. Di desa tersebut terdapat tiga Sekolah Dasar, diantaranya Sekolah Dasar Negeri 1,2, dan Inpres. Agung pun memilih Sekolah Dasar Negeri 1, maka ibunya segera mendaftarkannya melalui salah satu guru di sekolah tersebut.
Setelah mendaftar, tiba-tiba ada panggilan telepon dari pimpinan sang ibu di kantor. Selesai berbicara dengan pimpinannya tersebut, sang ibu terdiam seperti memikirkan sesuatu. Kemudian sang ibu menelepon putra sulungnya atau kakak dari Agung yang tinggal di pulau seberang. Karena ia menjadi dosen di salah satu kampus di sana.
Sang ibu mempunyai dua orang putra dan satu orang putri. Yang paling bungsu adalah Agung sedangkan putri satu-satunya di keluarga tersebut sedang menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi di Kota Makassar. Terjadi diskusi panjang antara sang ibu dan putra sulungnya. Ibunya meminta agar putra sulungnya tersebut meninggalkan tugas demi adiknya yang pertama masuk sekolah.
Sang ibu terus mengingatkan putra sulungnya tentang pamali anak pertama masuk sekolah tidak ada yang mengantar. Putra sulungnya tersebut pun dibuat kebingungan, sebab ia juga sangat menghargai kearifan lokal dan adat istiadatnya, Namun, di saat yang sama pula sang putra sulung juga sedang berada di daerah tempat ia sedang melakukan pengabdian masyarakat, cukup jauh dari lokasi kampusnya.
Kemudian ia meresponya dengan segera menelepon salah satu guru yang juga sahabat ia sewaktu di SMA dulu. Ia menanyakan perihal jam belajar, dan sebagainya. Putra sulung itu kemudian bergegas mencari perahu nelayan untuk menuju kampungnya. Namun, pemilik perahu yang bisa digunakan untuk menyebrang dari pulau satu ke pulau lainnya juga tak bisa mengantar karena sudah malam hari, dan esoknya anaknya akan dikhitan.
Setelah tawar menawar yang lama, maka mereka pun bersepakat agar esok setelah anaknya selesai dikhitan maka nelayan tersebut akan mengatarnya. Namun, sang putra sulung baru sadar ia butuh waktu dua jam untuk ke kampungnya. Ia pun segera menelepon ibunya untuk memastikan tantenya menemani Agung terlebih dahulu ke sekolah, setelah itu ia akan menyusul. Sang Ibu pun mengikuti saran si putra sulung.