Luka Bocah Kecil Sang Pengojek Payung
“Buat sekolah sama jajan Ka,” Lagi-lagi dia membuatku malu. Sekolah dan biaya hidupku tanpa malu meminta kepada orangtua. Jika kurang, aku merengek minta tambahan. Bahkan kadang berbohong untuk membeli sesuatu yang kurang manfaatnya.
Tapi lihatlah dia! Si bocah ojek payung itu. Dia rela berbasah-basahan menyingkirkan rasa takutnya terhadap bahaya kala hujan datang. Hanya dengan bermodalkan payung ukuran sedang, dia bisa mendapatkan rupiah untuknya bersekolah dan sekadar membeli jajanan rumahan.
Padahal tadi aku sempat berpikir tak usah ada hujan sekalian. Jika memang terjadi seperti itu, anak ini mungkin tak mendapatkan rizkinya. Terselip rasa kagumku padanya. Mungkin sebagian besar anak seumurannya sedang asyik bermain game online, bersenda gurau dengan keluarganya di rumah, menyantap makanan yang disediakan, atau bahkan sedang berselimut hangat di kamar yang cukup luas dengan berbagai macam mainan di sudut kamar. Sementara dia? Mungkin seribu dua ribu cukup membuatnya bahagia.
“Kamu nanti pulang naik apa?” tanyaku. “Naik apa saja Ka. Kadang naik angkot,” ucapnya. Aku ingin mengajaknya pulang bersama, tapi dia menolak dengan alasan masih ingin mengojek payung. Setelah sampai kukembalikan payungnya dan bertanya, “Berapa?” Dia pun menjawab, “Seikhlasnya saja, Ka.”
Untuk ke sekian kalinya dia kembali membuatku terdiam sesaat. Aku segera membuka tasku dan mengambil dompet. Beberapa lembar uang kertas aku keluarkan dan kuberikan padanya. “Terima kasih ya,” Dia hanya mengangguk dan kembali berjalan dengan wajah tertunduk.
Dari kejauhan aku perhatikan dia. Menerobos keramaian orang-orang yang lalu lalang sembari menawarkan payung yang ia sewakan. Jika bisa mengeluh, mungkin ia akan mengeluh, menangis, dan mengadu pada orangtuanya. Mengapa bapak dan ibu pisah? Mengapa aku harus hidup dengan ibu tiri yang tak menyayangiku? Ke mana bapak yang dulu? Ke mana ibu pergi meninggalkanku? Ke mana? Ke mana? Mengapa? Dan mengapa?
Hati dan jiwanya mungkin tak sebaik yang kita bayangkan. Tapi lihat, betapa banyak goresan luka dan kerinduan di sana. Andai dia boleh menangis dan berteriak kepada semesta kenapa ia harus terlahir berbeda dengan teman sebayanya, mungkin dia akan menangis tersedu-sedu.