Sepenggal Cerita di Perjalanan Menuju Kampung Halaman

Ilustrasi mudik ke kampung halaman.
Sumber :
  • U-Report

VIVA.co.id – Pagi itu dalam perjalanan mudik ke kampung halaman, ada-ada saja kejadian yang bisa disaksikan. Mulai dari keberangkatan, di perjalanan, sampai di tempat tujuan, yaitu kampung halaman. Perjalanan ini dimulai sejak awal menjalani puasa dengan menaiki angkot tujuan Malengkeri.

img_title Berani Perjalanan Mudik di Malam Hari? Simak Risiko dan Tips Amannya di Sini

Terminal Malengkeri adalah salah satu terminal yang berada di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, yang biasa menjadi tempat persinggahan para sopir dan masyarakat sebelum lanjut untuk mencari pengalaman kerja maupun yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi ke kota yang dikenal dengan kota megapolitan, yaitu Makassar.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Para penumpang yang datang dengan berbagai latar belakang yang berbeda. Ada dari Kabupaten Takalar, Jeneponto, Bulukumba, Bone, dan masih banyak lagi lainnya. Menjadikan terminal ini ramai dipadati masyarakat yang ingin mudik ke kampung halaman.

img_title Perjalanan Lebih Nyaman, Belasan Ribu Pemudik Terbantu Program Mudik Gratis 2025

Oh iya, sebelumnya, nama saya Jusriadi. Masih duduk di bangku kuliah semester VI di salah satu perguruan tinggi negeri di Makassar. Sebagai mahasiswa, siri dalam bahasa Makassar artinya malu, seharusnya tidak ada dalam kamus mahasiswa. Karena tidak punya kendaraan, tanpa pikir panjang akhirnya angkot yang lewat di depan kampus saya tahan, dan seketika langsung berhenti.

“Pak, mau ke terminal ya?” tanya saya dengan paras yang lugu. “Iya, kenapa?” tanya pak sopir itu. “Kebetulan saya mau balik ke kampung, dan saya mau naik mobil di terminal Malengkeri,” ujar saya menjelaskan. “Iya, silahkan naik!” kata si sopir yang akrab disapa Daeng Nyampa (39) itu.

img_title Terpopuler: 5 Cara Ampuh Agar Tak Mabuk Saat Perjalanan Mudik, hingga Sandal Khusus Umrah dan Wudhu

Adanya pemandangan yang lain dari biasanya di dalam angkot yang saya tumpangi, menyebabkan saya mengambil notes atau catatan kecil dan mulai mencatat. Tiga anak pengamen melompat ke dalam angkot. Salah satunya cacat kedua tangan dan kakinya dan berseragam sekolah dasar dengan membawa tas yang bukan berisi buku, tapi gitar.

Ketika gitar sudah digantungkan di leher dan dimainkan, anak yang cacat pun bernyanyi. Setengah jam kemudian, saya sampai di terminal Malengkeri. Saya pun turun dari angkot dengan notes yang beberapa halamannya sudah berisi catatan baru. Reportase dan hasil wawancara dengan si Ical, demikianlah nama anak yang cacat tadi.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut