Merefleksikan Makna Cinta untuk Negeri
- vstory
Abstraknya sosok negeri (tercinta) berkelindan dengan wujud nyata unsur-unsur hakiki pembangunnya, membuat cinta untuk negeri menjadi kompleks. Transendensi cinta melekat pada abstraknya sosok negeri (tercinta), sedangkan imanensi cinta melekat pada wujud nyata unsur-unsur hakiki pembangunnya. Karena kompleksitasnya, cinta untuk negeri dimaknai berbeda-beda oleh pecintanya. Ada yang menekankan aspek imanensinya dan ada pula yang memfokuskan pada aspek transendensinya. Di sini diuraikan tiga kelompok makna cinta untuk negeri, yakni rasa ikut menjadi bagian negeri (sense of belonging) dan rasa ikut memiliki negeri (sense of owning) untuk menggambarkan imanensi cinta untuk negeri, dan rasa ikut membangun dan membentuk negeri (sense of constituting) untuk menunjukkan artikulasi transendensi cinta untuk negeri.
Rasa Ikut Menjadi Bagian Negeri (Sense of Belonging)
Imanensi cinta untuk negeri jenis ini mengedepankan semangat persatuan dan kesatuan bangsa, semangat pembelaan dan kesetiaan pada negara, dan semangat kesediaan untuk mengorbankan diri demi kedaulatan bangsa dan negara. Semangat seperti itu mendominasi perjuangan para pahlawan sejak era kebangkitan nasional tahun 1908, sumpah pemuda tahun 1928, perjuangan menuju kemerdekaan bangsa 17 Agustus 1945, hingga perjuangan mempertahankan kemerdekaan negara pasca tahun 1945. Ideologi “nasionalisme”, sila ketiga Pancasila “Persatuan Indonesia”, dan budaya “gotong royong” melekat erat pada cinta untuk negeri jenis ini. Negeri yang dicintai dimuliakan (agape). Antipati dialamatkan pada gejala negatif seperti pengkhianatan terhadap kepentingan bangsa, ketidakkompakan dan perpecahan antar warga bangsa, dan melemahnya semangat persatuan untuk membela negara dari segala bentuk ancaman dan gangguan. Sayangnya, anomali bisa terjadi ketika cinta berlebihan membuat warga pecinta tenggelam dalam jejaring antar warga, tanpa kemampuan untuk mengambil jarak terhadap komunitas warga bangsa. Slogan patriotrik ultranasionalisme “right or wrong, our country!” merepresentasikan anomali tersebut. Kritik dan upaya perbaikan bangsa dari dalam dilemahkan, sehingga warga pecinta rentan menjadi korban manipulasi warga pemegang kekuasaan publik yang korup.
Rasa Ikut Memiliki Negeri (Sense of Owning)
Pada imanensi cinta untuk negeri jenis ini, warga pencinta sudah mampu merasakan kemerdekaan dan mampu mengambil jarak terhadap komunitas warga bangsanya. Rasa ikut memiliki komunitas bangsanya diwujudkan warga pecinta dalam kepedulian dan upayanya untuk menjaga, memelihara dan melestarikan budaya yang mempersatukan bangsa. Sebagaimana lazimnya kepemilikan sesuatu yang sangat dicintainya, warga pecinta merasakan kebanggaan terhadap bangsa yang ikut dimilikinya dan menghargai segala potensi, keunikan dan martabat yang melekat pada bangsanya. Di sini, cinta untuk negeri digantungkan pada kemerdekaan warga pecintanya (eros). Anomali bisa terjadi, yaitu ketika kemerdekaan pecinta yang kebetulan pemegang kekuasaan publik tidak disertai transparansi yang memungkinkan kritik penyeimbang (check and balances) terhadapnya. Absennya transparansi bisa membuat pecinta yang kebetulan pemegang kekuasaan publik rentan tergoda menjadi pelaku manipulasi kepentingan bangsa untuk kepentingan pribadi (korupsi).