Nasib Industri Perunggasan

Peternak mengumpulkan telur ayam untuk dijual ke pedagang di peternakan ayam petelur di kawasan Cibinong, Bogor, Jawa Barat, Sabtu, 9 Maret 2019.
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya

Selama ini pengusaha besar melakukan integrasi usaha yang sangat kuat dari hulu sampai hilir. Perusahaan besar menguasai pembibitan DOC (day old chick), pakan ternak, obat dan vaksin, rumah potong, distribusi, cold storage, bahkan retail dan perdagangan. 

img_title Teknologi Diprediksi Jadi Penentu Masa Depan Industri Tanah Air

Inilah yang merupakan akar masalahnya selama ini. Akibatnya, perusahaan besar mengontrol harga input, mengontrol pasokan DOC, mengontrol distribusi, bahkan dengan mudah dapat mempengaruhi harga pasar ayam dan telur. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Akhirnya, peternak rakyat hanya menjadi “price taker”, membeli input mahal, menjual hasil murah, dan menanggung risiko terbesar. Di sinilah letak ketidakadilan dari industri perunggasan ini. 

img_title RHVAC Indonesia 2026 Soroti Efisiensi Energi dan Pengelolaan Lingkungan Jadi Tantangan Industri

Inilah paradoks, pada satu sisi konsumen menikmati harga protein murah. Tetapi pada sisi lain peternak kecil sering bangkrut, margin keuntungan sangat tipis, aset usaha sering disita bank.

Pemerintah atau negara dalam hal ini harus hadir karena industrinya tidak sehat.  Pemerintah dan KPPU mutlak harus melakukan refomasi struktur industri mejadi bersaing sehat secara bertahap. 

img_title Harga Beras dan Telur Ayam hingga Cabai Kembali Melonjak, Cek Daftar Lengkap Komoditasnya

Pembatasan integrasi vertikal perlebihan harus dilakukan dengan membuat batas integrasi usaha tertentu. Misalnya perusahaan pembibit besar tidak boleh mendominasi perdagangan livebird, integrator besar dibatasi proporsi budidaya langsung, sebagian pasar wajib dialokasikan untuk peternak mandiri.

Pedagang daging ayam di pasar tradisional.

Harga Beras dan Telur hingga Daging Ayam Kompak Menurun, Cek Daftar Komoditas Lainnya

PIHPS Nasional BI melaporkan bahwa harga beras kualitas bawah I turun Rp 50 di Rp 14.850 per kg, dan harga beras kualitas bawah II turun Rp 150 di Rp 14.550 per kg.

img_title
VIVA.co.id
14 September 2026
Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VIVA.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut