Kepala P3B Kemendikbud, Sugiyono

Semua Bahasa Daerah Terancam Punah

Kepala Pusat Pengembangan dan Perlindungan Bahasa (P2B) Kemendikbud, Sugiyono
Sumber :
  • Dok. P2B Kemendikbud

Maksudnya bahasa ibu?

img_title UN Lancar, Mendikbud Berterima Kasih pada Hacker

Bahasa ibu adalah bahasa yang dikuasai pertama kali oleh anak.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Seberapa banyak pendidikan kita mengadopsi bahasa daerah?

img_title Ini Syarat Lulus UN Versi Menteri Anies

Kita belum pernah melakukan survei. Tetapi, kalau kita masuk ke sekolah-sekolah, katakanlah sekolah di tingkat kecamatan, sering guru menggeser dari bahasa Indonesia ke bahasa daerah. Di kampung-kampung juga banyak. Saya kira itu sangat banyak, tapi belum pernah dihitung.

Bagaimana dengan faktor lingkungan?

img_title Kamus Bahasa Jawa Standar Internasional Sudah Didigitalisasi

Itu terutama lingkungan perkotaan, yang terkait urbanisasi. Itu kalau lingkungannya multietnis. Itu lebih rentan untuk punah. Kalau seseorang dari satu monoculture, kemudian berpindah yang multietnis, itu cederung memudar. Jangankan yang multi, yang dua saja bisa pudar.

Kenapa?

Karena orang Indonesia itu toleran. Kalau ada orang Jawa, ketemu orang Minang, mau mempertahankan bahasa Jawa, atau menghormati orang Minang. Mereka coba berbahasa Minang atau pilih bahasa Indonesia.

Lalu, apa yang dilakukan pemerintah untuk melestasikan bahasa etnis?

Ada dua. Pertama, kami sebut konservasi bahasa dan sastra. Kedua, revitalisasi.

Bisa dijelaskan?

Konservasi itu mencoba menambah pengguna dan penggunaannya. Kalau revitalisasi, mencatat kekayaan yang kita punyai.

Misalnya yang dilakukan di Jakarta beberapa hari yang lalu, yakni mengumpulkan anak-anak muda dalam sebuah festival agar mereka bisa kembali berbahasa Betawi yang murni. Oleh karena itu, kami adakan festival, dalam bahasa Melayu Betawi.

Apa solusi pemerintah untuk mencegah ancaman kepunahan bahasa etnis ini?

Agak sulit ya. Karena pemicunya urbanisasi dan kawin antaretnis. Karena tak mungkin kita melarang orang Indonesia urbanisasi atau melarang mereka kawin. Jadi, yang kami lakukan sekarang melakukan pencatatan, meneliti, menyusun tata bahasa. Kalau bahasa itu punah, kita sudah punya rekaman.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Selain itu?

Kalau masalahnya generasi muda sudah tidak bisa berbahasa daerah, kita akan ajari mereka. Atau orangtuanya yang mengajari mereka. Ada dua jalur, kita bisa mengajarkan melalui sekolah dalam bentuk muatan lokal. Tapi, ini tidak efektif, karena prosesnya sulit, tapi hasilnya tidak pernah diterapkan di rumah. Paling hanya untuk mendapatkan nilai di sekolah.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut