Virtual Reality Diklaim Potensial Obati Korban Trauma
- Telegraph
Dari skema ini, diharapkan pasien mengungkapkan kembali insiden yang dialaminya tahap demi tahap, secara detail berdasarkan kronologinya. Pengungkapan detail insiden yang dialami pasien itu bisa menjadi bekal bagi para dokter dan pakar terapi. Rizzo mengaku perawatan dengan VR yang dipakai timnya telah terbukti bagus. Bahkan, ujarnya, dalam beberapa kasus menunjukkan hasil yang lebih baik.
"Sudah beberapa pasien kami yang mencoba dengan pendekatan tradisional ternyata tak ada manfaat, kemudian saat menjalani program ini menunjukkan ada manfaat," ujar dia.
Memori traumatis
Rizzo pun termasuk dalam barisan peneliti yang tergabung dalam konsorsium Eropa untuk membangun skenario serangan Paris secara virtual. Dalam skenario virtual itu, peneliti membangun kembali lokasi serangan secara tiga dimensi, menyertakan beberapa avatar yang mewakili korban meninggal, hidup, terluka. Peneliti juga menyertakan suara dalam versi tiga dimensi. Hal itu bertujuan untuk membuat para korban serangan mengingat memori traumatis mereka.
Tujuan peneliti yang membuat para korban mengingat trauma yang mereka rasakan bukan tanpa alasan. Memang terkesan, peneliti membuat para korban menderita dengan mengingat insiden tersebut kembali, tapi di sisi lain, justru langkah ini menurut peneliti, bisa menyembuhkan trauma yang dirasakan.
"Kami perlu menciptakan lingkungan yang bermakna bagi pasien. Ini berarti adegan tiga dimensi perlu merangkum segudang isyarat yang mampu memunculkan kenangan traumatis. Mengakses isyarat traumatis sangat penting bagi keberhasilan terapi ini," ujar Pedro Gamito, profesor dari Universidade Lusófona, Portugal.
Gamito mengakui tahap pengembangan terapi VR selanjutnya untuk korban serangan teror itu masih perlu waktu dan pembuktian. Sebab memang terapi ini perlu sejumlah skenario yang dikembangkan. Dia mengharapkan, pengujian terapi ini dimulai dalam beberapa bulan ke depan.
Rizzo menegaskan, terapi VR bagi para korban teror dilakukan bukan untuk membuat mereka menderita. Dia bersama peneliti lain melakukan ‘ide gila’ ini karena terapi ini punya potensi.
"Anda mungkin berpikir, mengapa melakukan ini, mengapa menyiksa orang-orang. Saya katakan karena kami tahu teknologi ini bekerja. Penelitian pengembangan terapi ini bukan 100 persen, tapi ini salah satu perawatan terbaik dalam uji klinis," kata dia.