Kain Ulap Doyo dari Daun Diolah Jadi Uang
- Shintaloka Pradita Sicca / VIVA.co.id
Setelah menjadi kain pun dibentuk menjadi tas, dompet, hingga pakaian. Produk-produk penenun setempat yang tergabung dalam kelompok maupun individual di pajang di lima galeri di wilayah Tanjung Isuy yang dikelola bersama.
Berupa kain mereka jual sekitar Rp350 ribu-Rp500 ribu untuk masyarakat domestik, sedangkan untuk mancanegara dijual dengan harga Rp1 juta-Rp5 juta.
Baju Rp1 juta-Rp2 juta untuk dalam negeri, sedangkan Rp4 juta-Rp7 juta untuk pasar internasional. Kemudian, gelang Rp5 ribu-Rp15 ribu, sedangkan untuk warga luar negeri bisa Rp50 ribu-Rp100 ribu. "Orang asing tidak pernah menawar seperti orang Indonesia," ujarnya.
![]()
Selain dijual di galeri setempat, produk ulap doyo ini telah didistribusikan ke beberapa kota di Indonesia, yaitu Yogja, Malang, Jakarta, dan Surabaya. Ada juga penjualan dilakukan secara online.
"Memproduksi berbagai bentuk ulap doyo menghasilkan uang untuk menambah penghasilan keluarga, dan tentu bisa tetap mengurus keluarga," tuturnya.
Pribadinya berharap, ulap doyo semakin dikenal di seluruh pelosok negeri dan internasional sebagai kain tradisional bernilai sejarah dan berkualitas, dengan konsisten mempertahankan penggunaan warna alam.
Pewarna alam andalan mereka berasal, dari batang elai (panen lestari tidak mematikan pohon), daun teruja (nama lokal), serbuk gergaji dari ulin (limbah sawmill).
(asp)