Ini Misi Kedatangan PM Selandia Baru ke Indonesia

Perdana Menteri Selandia Baru John Key.
Sumber :
  • REUTERS/Jung Yeon-Je/Pool

VIVA.co.id – Direktur Asia Timur dan Pasifik Kementerian Luar Negeri, Edy Yusuf, memastikan Perdana Menteri Selandia Baru, John Key, akan mengunjungi Indonesia selama tiga hari, pada Minggu, 17 Juli 2016.

Tantangan Diplomatik Selandia Baru dalam Menghadapi Ambisi China di Pasifik

PM Key datang beserta rombongan 25 delegasi dan chief executive officer (CEO), karena menguatkan kerja sama ekonomi, khususnya perdagangan, dengan Indonesia pada kunjungan yang keduanya kali ini.

"PM Selandia Baru akan membawa isu ekonomi yang dijadikan fokus dalam pertemuan ini," kata Edy, di Gedung Kemlu RI, Jakarta, Kamis, 14 Juli 2016.

Protes Besar-Besaran di Auckland, Penduduk Asli Maori Tolak Isu LGBT di Tengah Rainbow Parade

PM Key akan melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Joko Widodo dan menghadiri sejumlah acara serta forum bisnis bersama pengusaha Indonesia.

Menurut Edy, empat kerja sama dan tiga MoU akan dibicarakan kedua pemimpin negara tersebut.

Menuju Negara Bebas Asap 2025, Selandia Baru Usung Regulasi Ini untuk Turunkan Jumlah Perokok

Keempat kerja sama yang dimaksud adalah investasi, terutama di aspek industri susu, energi terbarukan, peternakan terutama pembibitan sapi, serta pariwisata dan pendidikan.

Sementara itu, tiga MoU yang akan ditandatangani yaitu energi terbarukan, pariwisata, serta IUU Fishing.

Selain itu, PM Key diagendakan mengunjungi perusahaan di Cikarang, Jawa Barat, dan Surabaya, Jawa Timur. Di Surabaya, Edy melanjutkan, PM Key akan bertemu dengan Gubernur Jawa Timur, Soekarwo.

"Kita fokus peningkatan kerja sama perdagangan. Karena, memang volume perdagangan Indonesia dan Selandia Baru masih kecil. Target kita meningkatkan nilai perdagangan menjadi US$4 juta dengan mengekspor produk pertanian seperti mangga dan salak," ujar Edy.

Ilustrasi menggunakan media sosial.

Selandia Baru Rancang UU Baru: Anak di Bawah 16 Tahun Tak Boleh Main Medsos

Perdana Menteri Selandia Baru menilai dampak medso dinilai berbahaya untuk anak-anak.

img_title
VIVA.co.id
13 Mei 2025