Senja Kala Jalan Jaksa

Jalan Jaksa, Jakarta Pusat, Kamis, 19 Desember 2019.
Sumber :
  • vivanews/Eduward Ambarita

Suasana di Hostel Djody, Jalan Jaksa, Jakarta Pusat, Kamis, 19 Desember 2019.

img_title Jaksa Ungkap Total Suap Putusan Lepas Kasus CPO Capai Rp 40 Miliar

Para pelaku usaha penginapan hingga restoran, mengeluhkan sepinya pengunjung belakangan ini. "Sekarang sudah mati suri, mas, lima tahun belakangan ini," kata Ponte.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menurut Ponte, mereka juga mengeluhkan kebijakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memperluas trotoar, tidak ada lahan parkir dan melarang pedagang kaki lima (PKL) menjajakan dagangannya. Adapun di ujung dari Jalan Jaksa, terbentang Jalan Wahid Hasyim, dengan deretan hotel bintang tiga hingga empat yang memiliki lahan parkir luas. Trotoarnya pun digunakan untuk berjualan dan parkir. "Padahal, PKL merupakan ikon Jaksa," ujar Ponte.

img_title Warga Sekitar Panik Nasibnya Diujung Tanduk Buntut Kawasan Ekowisata di Bogor Ini Mau Ditutup

Tak hanya soal parkir dan PKL yang membuat hostel dan wisma sepi. Faktor lainnya, yaitu terkait perkembangan teknologi pemesanan kamar melalui daring. Selain itu, perubahan karakter pelancong berusia muda atau milenial. Kebanyakan di antara mereka lebih memilih gengsi menginap di hotel bertingkat. "Dengan hotel minimal bintang tiga dia tidur Rp350 ribu, Rp400 ribu ya, bisa patungan," kata Ponte.

Menurut Ponte, Haji Munir, sapaan pemilik Hostel Djody, bersama pengusaha penginapan lainnya sebetulnya tidak mengalami kebangkrutan. Usaha penginapan tetap jalan, meski ada penurunan pendapatan.

img_title Pasang Patok di Lahan Sendiri, Dua Orang Didakwa Jaksa

Jalan Jaksa, Jakarta Pusat, Kamis, 19 Desember 2019.

Para pemilik penginapan berusaha mempertahankan usaha mereka dari gempuran para pesaing dan hotel-hotel modern di sekitar Kebon Sirih. Banyak dari para pemilik berkukuh tetap mempertahankan gaya bangunan penginapan yang sudah bertahan 20 tahun lebih.

"Dari owner kita akan seperti ini. Ini soal kompatibel dan kenyamanan. Banyak tamu reguler (pelanggan) menginap di Djody karena sudah menganggap rumah kedua," ujarnya.

Boy pun menyadari, makin berkurangnya tamu karena para pesaing yang makin ekspansif. Untuk menghidupkan kembali usaha milik keluarga, Boy berencana mendaftarkan Wisma Delima ke sejumlah aplikasi penyedia layanan penginapan. Tidak hanya tamu lama, kini Wisma Delima bersiap menggarap wisatawan lain di luar pelanggan tetap. "Sekarang kita berbenah. Kita sedang menuju ke sana, baru mau daftar. Kalau tidak mengikuti zaman nanti ketinggalan kita," katanya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Jejak Jalan Jaksa

Boy menceritakan, awalnya mendiang ayahnya Nathaniel Lawalata membangun wisma itu. Semula, Nathaniel menggunakan rumahnya sebagai penginapan bagi turis berbujet rendah yang hendak datang ke Ibu Kota.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut