Transformasi Pertamina Menuju Masa Depan yang Lebih Baik
Transisi energi dengan bauran energi yang semakin tinggi menjadi penting dalam rangka menjaga kelestarian lingkungan untuk diwariskan pada generasi masa depan.
Target bauran energi baru terbarukan dicanangkan sebesar 25% di tahun 2025. Menurut data Kementerian ESDM pada tahun 2022 bauran energi Indonesia masih di angka 12,5%, masih tekor sekitar 12,5% lagi yang harus dikejar 2 tahun ke depan.Â
Selain komitmen untuk memenuhi target tersebut, Pertamina juga perlu mengambil langkah terobosan sehingga membuka peluang model bisnis baru yang dapat memberi keuntungan Pertamina pada saat yang bersamaan. Hal ini adalah trend global dalam mengusung konsep Green and Clean Economy misalnya komitmen Indonesia pada agenda yang di canangkan pada IPEF (Indo Pasific Economic Framework) di Tokyo tahun 2022 sebagai bentuk inisiatif negara-negara Indo Pasific dalam menjalin kerja sama ekonomi untuk mengatasi berbagai tantangan global dan meningkatkan kerja sama ekonomi AS di kawasan Indo Pasifik, melalui 4 pilar, yaitu perdagangan, rantai pasok, ekonomi bersih, serta ekonomi berkeadilan.
Indonesia dalam pilar ekonomi bersih (Clean Economy) bersama 14 negara anggota IPEF mancanangkan perjuangannya menahan laju perubahan iklim dan pemanasan global.
Menurut data proyeksi yang ada kebutuhan energi di dalam negeri Indonesia masa datang yaitu pada tahun 2040 akan meningkat pesat, di satu sisi penggunaan energi minyak secara presentasi mengalami penurunan dari sekarang 27% nanti pada tahun 2040 terjun ke angka 16% namun secara volume meningkat, per hari ini kita gunakan minyak sebesar 1,5 juta barrel per hari nanti pada tahun 2040 diproyeksikan volume penggunaan minyak per hari bisa mencapai 2,8 juta barrel. Artinya, bisnis minyak (fossil fuel) masih tinggi di masa mendatang.
Pertamina masih menjadi perusahaan migas terbesar di Indonesia, selain target lifting minyak 1 juta barrel angka produksi mencapai 65%. Di sisi retail, Pertamina sebagai penyedia bahan bakar minyak market share nya mencapai 95%.Â
Fakta dan data di atas menjadi tantangan yang harus dijawab oleh Pertamina untuk memenuhi komitmen melakukan transisi energi. Pertamina mau tidak mau harus menjalankan smart and green operation pada produksi dan eksplorasinya yang lebih ramah lingkungan (4rs of Circular Carbon Economy) yang terikat dengan komitmen BUMN yang menargetkan pada tahun 2050 bisa mencapai net zero emmision.