Kadin dan Pemerintah Arab Saudi Bakal Godok Kerja Sama Industri Halal hingga AI

Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Bakrie
Sumber :
  • VIVA.co.id/Mohammad Yudha Prasetya

Jakarta, VIVA – Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Bakrie berharap, jajaran pengusaha Kadin Indonesia bisa bekerja sama dengan pemerintah Arab Saudi dalam mengembangkan dan memperluas pasar serta produk halal yang bisa disinergikan antarkedua negara.

Kampung Haji Indonesia di Arab Saudi Ditargetkan Beroperasi 2028

Hal itu diutarakan Anindya usai menggelar pertemuan dengan Menteri Perindustrian dan Sumber Daya Mineral Arab Saudi, Bandar Al-Khorayef beserta jajarannya, untuk meningkatkan perdagangan dan investasi antara Indonesia dan Arab Saudi.

"Yang tadi juga sangat-sangat besar dibicarakan adalah mengenai industri halal. Itu perlu di garis bawahi," kata Anindya saat ditemui di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis, 17 April 2025.

Jaga Stabilitas Ekonomi RI Kadin Ingatkan Semangat Indonesia Incorporated

Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Bakrie beserta jajaran Kadin Indonesia, berfoto bersama Menteri Perindustrian dan Sumber Daya Mineral Arab Saudi, Bandar Al-Khorayef beserta jajarannya, dalam pertemuan di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.

Photo :
  • VIVA.co.id/Mohammad Yudha Prasetya

Dia meyakini bahwa baik Indonesia maupun Arab Saudi bisa menjadi pangsa pasar bagi produk-produk halal, bahkan produsen dari produk-produk halal tersebut. Tujuannya tak lain adalah supaya produk-produk halal produksi kedua negara nantinya bisa semakin dipasarkan ke sejumlah pasar di ASEAN, Asia Tengah, Eropa, hingga negara-negara barat lainnya.

Pergi di Tengah Maraknya Demo, Tiara Andini Ketemu Menteri di Pesawat: What A Beautiful Chaos!

"Karena dalam hal industri halal ini, tentunya kedua negara ini bisa menjadi pangsa pasar dan bisa menjadi satu produsen ekspor ke ASEAN, ke Eropa, dan tempat-tempat lain di Barat maupun juga di Sentral Asia misalnya," ujarnya.

Selain itu, Anindya juga mengatakan bahwa ada pula pembahasan terkait pengembangan artificial intelligence (AI) antara Indonesia-Arab Saudi. Hal ini diakuinya menjadi concern tersendiri bagi pemerintah Arab Saudi, karena mereka terlihat sangat fokus akan hal tersebut.

"Karena kita ketahui bahwa Saudi itu kalau tidak salah, Dia investasi di IP atau intellectual property untuk game saja sampai US$4 miliar," kata Anindya.

Dia menjelaskan, sebagai bagian dari investasi di dunia masa depan, teknologi AI tentunya membutuhkan dana yang sangat besar. Sehingga, menurutnya setiap negara yang ingin mengembangkannya sudah harus benar-benar memiliki segmen yang jelas untuk dikembangkan lebih lanjut.

"Karena AI itu kan masa depan dan membutuhkan banyak uang. Jadi kalau kita punya segmen yang clear, misalnya kayak soal Muslim, ya penggunaannya bisa digunakan, mesinnya bisa diajarin untuk umat Muslim. Karena concern-nya pertanyaannya kan pasti seperti itu," ujar Anindya.

"Kemudian terkait soal fintech yang telah dipakai di Indonesia, mereka juga tanya bisa enggak berkembang bukan hanya di Filipina tapi juga di Saudi Arabia. Jadi walaupun menterinya (di bidang) mining dan industri, tapi Dia juga menyampaikan beberapa hal yang lain. Ya mudah-mudahan lah bisa terealisasi," ujarnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya