Hajar Sektor Farmasi Lewat Tarif Impor 200 Persen, Donald Trump: Segera!
- vstory
Jakarta, VIVA – Presiden Amerika Serikat (AS) kembali melakukan keputusan spontan dengan mengumumkan tarif impor terhadap produk-produk farmasi. Trump berencana mengenakan pajak sangat tinggi hingga 200 persen.
Dalam rapat kabinet pada Selasa, 8 Juli 2025, Trump mengisyaratkan pungutan bea masuk tersebut tidak dilaksanakan dalam waktu dekat. Ia akan memberi waktu kepada masyarakat sekitar satu tahun hingga satu setengah tahun ke depan.
“Kami akan memberi mereka waktu tertentu untuk memperbaiki tindakan mereka (perusahaan farmasi yang mengembalikan produksi ke AS),” ujar Trump dikutip dari CNBC Internasional pada Rabu, 9 Juli 2025.
Menteri Perdagangan Howard Lutnick menambahkan, rincian mengenai tarif impor sektor farmasi akan rilis pada akhir bulan Juli. Ia menegaskan, keputusan sepenuhnya ada di tangan Trump.
Presiden AS Donald Trump berlakukan tarif masuk barang impor ke AS
- AP Photo/Mark Schiefelbein
"Untuk riset produk farmasi dan semikonduktor akan selesai pada akhir bulan ini. Presiden akan menetapkan kebijakannya saat itu dan saya akan membiarkan dia menunggu untuk memutuskan bagaimana dia akan melakukannya,” jelas Lutnick.
Saham farmasi sebagian besar tidak berubah setelah pernyataan Trump. Trump telah berulang kali mengancam kemudian mengubah arah usulan tarif sehingga tidak ada jaminan ia akan menetapkan tarif farmasi sebesar 200 persen.
Rencana tarif impor terhadap produk farmasi dinilai akan memberikan pukulan telak bagi perusahaan farmasi. Sebagian besar pelaku usaha di bidang menolak dan memperingatkan bahwa pungutan tersebut dapat menaikkan biaya, mengalangi masiknya investasi ke AS dan mengganggu rantai pasokan obat yang berpotensi membahayakan pasien.
Industri farmasi sudah menghadapi dampak dari kebijakan penetapan harga obat Trump. Menurut para produsen obat, regulasi Trump telah mengancam laba bersih dan kapasitas mereka untuk berinvestasi dalam penelitian dan pengembangan.
Di sisi lain, Trump mengklaim tarif impor justru membuka peluang untuk memberi insentif kepada perusahaan farmasi untuk memindahkan operasi manufaktur ke AS, seperti Eli Lilly, Johnson & Johnson, Abbvie dan lainnya. Pasalnya, investasi dari produksi obat dalam negeri telah menyusut drastis selama beberapa dekade terakhir.