CT Ingatkan RI Tak Tergantung Sumber Daya Alam
Kamis, 12 Desember 2013 - 12:40 WIB
Sumber :
- Antara
VIVAnews
- Sejak awal pembangunan ekonomi pada akhir 1960an, pendekatan ekonomi lebih banyak berwujud pada pembangunan sektoral. Pembiayaan pembangunan ekonomi bertumpu pada ekstraksi sumber daya alam, utamanya minyak dan gas.
Pemilik CT Corp, Chairul Tanjung, dalam orasi ilmiah penganugerahan gelar Doktor Honoris Causa dalam Ilmu Ekonomi Kewirausahaan di Universitas Padjajaran, Bandung, Kamis 12 Desember 2013, mengatakan, kegiatan ekstraksi sumber daya alam pada satu sisi memang memberikan hasil yang sangat besar bagi perekonomian.
Namun, menurut dia, kegiatan ini juga menimbulkan masalah baru, yaitu habisnya potensi dan jumlah sumber daya alam yang ada. Saat ini, seiring dengan status Indonesia sebagai importir netto minyak bumi sejak 2003, Â Â Â Indonesia telah melewatkan masa bonanza minyak bumi. Begitu juga untuk sumber daya produk hutan tropis.
"Dalam 12 tahun terakhir, periode 2000-2011, Indonesia telah kehilangan sekitar 15,8 ribu hektare lahan hutan, dan tercatat sebagai negara dengan persentase deforestasi tercepat yaitu sebesar 8,4 persen per tahun," ujar CT, sapaan Chairul Tanjung.
Dengan mulai tingginya tingkat kewaspadaan akibat mulai menipisnya minyak bumi, dan juga kesadaran pentingnya menjaga hutan, dia menambahkan, Indonesia kemudian mulai mengeksploitasi sumber daya alam lain, seperti batu bara.
"Tentu, hal ini sangat strategis untuk dilakukan. Namun, pertanyaan sesungguhnya ialah apakah kebijakan ini merupakan kebijakan yang telah memanfaatkan sumber daya alam untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat," ujarnya.
CT juga mempertanyakan apakah Indonesia sekadar melihat keuntungan jangka pendek, dan suatu saat nanti akan kembali mengatakan bahwa bonanza sumber daya alam Indonesia telah terlewati.
Untuk itu, dia menegaskan pentingnya penciptaan nilai tambah di Indonesia. Saat ini, Indonesia telah masuk dalam kategori Middle Income Country.
Pada saat mensyukuri kondisi tersebut, dia menjelaskan, Indonesia juga perlu mewaspadai pelajaran dari perekonomian negara-negara lain. Negara-negara itu tidak mampu keluar dari kategori tersebut, dan akhirnya terjebak dalam kondisi yang sering disebut dengan Middle Income Trap.
"Saya yakin bahwa strategi utama bagi Indonesia untuk keluar dari jebakan tersebut adalah dengan mengurangi ketergantungan kepada eksploitasi sumber daya alam," ujar dia.
Baca Juga
Pemilik CT Corp, Chairul Tanjung, dalam orasi ilmiah penganugerahan gelar Doktor Honoris Causa dalam Ilmu Ekonomi Kewirausahaan di Universitas Padjajaran, Bandung, Kamis 12 Desember 2013, mengatakan, kegiatan ekstraksi sumber daya alam pada satu sisi memang memberikan hasil yang sangat besar bagi perekonomian.
Namun, menurut dia, kegiatan ini juga menimbulkan masalah baru, yaitu habisnya potensi dan jumlah sumber daya alam yang ada. Saat ini, seiring dengan status Indonesia sebagai importir netto minyak bumi sejak 2003, Â Â Â Indonesia telah melewatkan masa bonanza minyak bumi. Begitu juga untuk sumber daya produk hutan tropis.
"Dalam 12 tahun terakhir, periode 2000-2011, Indonesia telah kehilangan sekitar 15,8 ribu hektare lahan hutan, dan tercatat sebagai negara dengan persentase deforestasi tercepat yaitu sebesar 8,4 persen per tahun," ujar CT, sapaan Chairul Tanjung.
Dengan mulai tingginya tingkat kewaspadaan akibat mulai menipisnya minyak bumi, dan juga kesadaran pentingnya menjaga hutan, dia menambahkan, Indonesia kemudian mulai mengeksploitasi sumber daya alam lain, seperti batu bara.
"Tentu, hal ini sangat strategis untuk dilakukan. Namun, pertanyaan sesungguhnya ialah apakah kebijakan ini merupakan kebijakan yang telah memanfaatkan sumber daya alam untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat," ujarnya.
CT juga mempertanyakan apakah Indonesia sekadar melihat keuntungan jangka pendek, dan suatu saat nanti akan kembali mengatakan bahwa bonanza sumber daya alam Indonesia telah terlewati.
Untuk itu, dia menegaskan pentingnya penciptaan nilai tambah di Indonesia. Saat ini, Indonesia telah masuk dalam kategori Middle Income Country.
Pada saat mensyukuri kondisi tersebut, dia menjelaskan, Indonesia juga perlu mewaspadai pelajaran dari perekonomian negara-negara lain. Negara-negara itu tidak mampu keluar dari kategori tersebut, dan akhirnya terjebak dalam kondisi yang sering disebut dengan Middle Income Trap.
"Saya yakin bahwa strategi utama bagi Indonesia untuk keluar dari jebakan tersebut adalah dengan mengurangi ketergantungan kepada eksploitasi sumber daya alam," ujar dia.
Halaman Selanjutnya