Gerhana Bulan Total 2018, Latihan Temukan Planet Alien

Gerhana Bulan Total pada 16 Juli 2000
Sumber :
  • NASA Goddard Space Flight Center/Fred Espenak

VIVA – Gerhana Bulan Total 2018, yang langka pada hari ini, atau dikenal Super Blue Bloon Moon menyimpan potensi untuk mempelajari pencarian planet luar Tata Surya, atau planet alien. 

img_title Siap-siap Lihat Langsung Gerhana Bulan Total Malam Ini, Cek Jadwalnya

Peneliti Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Rhorom Priyatikanto menuturkan, momen Gerhana Bulan Total hari ini, bisa dijadikan untuk ajang berlatih menemukan dan mendeteksi planet alien. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Kita bisa latihan mengurai spektrum transmisi planet luar Tata Surya dengan cara mengurasi spektrum transmisi bumi yang diambil saat gerhana," tuturnya kepada VIVA, Rabu 31 Januari 2018. 

img_title Fenomena Bulan Purnama dan Gerhana Bulan Disebut Penyebab Potensi Banjir Rob, Ini Langkah BPBD Jakarta

Dalam pencarian planet luar Tata Surya, Rhorom menjelaskan, memang salah satunya menggunakan prinsip gerhana, yaitu saat salah satu objek benda langit transit di depan induknya. 

Persiapan Melihat Gerhana Bulan Total

img_title Siap-siap Menyambut Datangnya Bulan Berdarah

Dia menjelaskan, pada pengamatan gerhana bulan pengamatan secara spektroskopi sering kali dijadikan simulasi dalam mengamati atmosfer planet yang sedang transit di depan bintang induknya.

"Pengamatan spektroskopi atmosfer biasa dilakukan saat planet transit. Untuk mendapatkan spektrum 'transmisi' atmosfer planet itu. Spektrum transmisi itu analog dengan warna merah bulan saat gerhana," jelasnya. 

Baca juga: Tips lihat Gerhana Bulan Langka ala Ilmuwan NASA

Rhorom menuturkan, warna merah bulan pada momen Gerhana Bulan Total 2018 nanti malam, merupakan spektrum transmisi dari atmosfer bumi. 

Namun, pengamatan atmosfer planet dalam momen gerhana itu bukan berarti pencarian planet alien lebih mudah dilakukan. Sebab, proses pencarian planet luar Tata Surya ini memang butuh waktu yang panjang. Pendeteksian atmosfer hanyalah salah satu tahap saja. Masih ada tugas deteksi karakterisasi fisik. 

"Hal ini penting, demi menjawab apakah planet itu layak huni atau mendukung kehidupan. Pengamatan atmosfer planet dilakukan untuk mengetahui apakah di sana ada uap air, oksigen, atau gas penanda kehidupan lain," jelasnya. 

Gerhana Bulan Total akhir Januari ini akan disertai dengan Supermoon dan Blue Moon. Bahkan, gerhana ini disebut sebagai Blood Moon. 

Momentum Supermoon terjadi, lantaran pada 31 Januari 2018, bulan bakal berjarak terdekat dengan bumi (perigee), yakni 358.993 kilometer dari bumi. Hal ini menjadikan penampakan purnama akan lebih besar dari normalnya purnama atau dikenal istilah Supermoon. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Purnama pada 31 Januari ini, akan menjadi yang kedua kalinya hadir selama Januari atau dikenal dengan istilah Blue Moon. Sedangkan istilah Blood Moon atau ‘bulan semerah darah’ muncul kala Gerhana Bulan total terjadi. Bulan akan berwarna kemerah-merahan.

Jadi pada 31 Januari nanti, terjadi fenomena purnama dan gerhana bulan, dan mengingat penamaan di atas, fenomena gerhana bulan total itu kadang disebut Super Blue Blood Moon atau Bulan Super Darah Biru. 

Penampakan Gerhana Bulan Total.

Jangan Lewatkan Gerhana Bulan Total Malam Ini, Kemenag Ingatkan Perbanyak Ibadah

Gerhana bulan total atau blood moon akan terjadi malam ini 7-8 September 2025 bisa disaksikan di seluruh Indonesia. Kemenag mengingatkan umat Islam untuk perbanyak ibadah

img_title
VIVA.co.id
8 September 2025
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut