6 Cara Budaya Menjelaskan Tentang Gerhana
- ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra
Setelah gerhana, para pemimpin spiritual akan berusaha mengetahui sumber kemarahannya dan menentukan pengorbanan mana yang harus dipersembahkan.Â
Meskipun suku Inca jarang melakukan pengorbanan manusia, gerhana diperkirakan kadang-kadang dianggap cukup serius untuk melakukan pengorbanan manusia. Puasa juga merupakan hal yang biasa, dan kaisar sering kali menarik diri dari tugas publik selama dan setelah gerhana.
4. Penduduk asli Amerika
Menurut legenda Choctaw, penyebab gerhana adalah tupai hitam nakal yang menggerogoti Matahari. Seperti naga Cina, tupai harus ditakuti oleh keributan dan teriakan manusia yang menyaksikan peristiwa tersebut.Â
Masyarakat Ojibwa dan Cree mempunyai cerita bahwa seorang anak laki-laki (atau terkadang kurcaci) bernama Tcikabis berusaha membalas dendam pada Matahari karena telah membakarnya.Â
Meskipun ada protes dari saudara perempuannya, dia menjebak Matahari, menyebabkan gerhana. Berbagai hewan mencoba melepaskan Matahari dari perangkapnya, namun hanya tikus rendahan yang dapat mengunyah tali tersebut dan mengembalikan Matahari ke jalurnya.
5. Afrika Barat
Gerhana Matahari Cincin
- www.bmkg.go.id
Batammaliba adalah suku kuno di Togo utara dan Benin. Menurut legenda mereka, kemarahan dan perkelahian manusia menyebar ke Matahari dan Bulan, yang mulai saling bertarung dan menyebabkan gerhana.Â
Ibu pertama yang legendaris, Puka Puka dan Kuiyecoke, mendesak penduduk desa untuk menunjukkan perdamaian kepada Matahari dan Bulan untuk meyakinkan mereka menghentikan perkelahian mereka. Saat terjadi gerhana, masyarakat Batammaliba menebus perseteruan lama dan bersatu secara damai untuk mendorong perdamaian antar benda langit.
6. Mesir
Anehnya, masyarakat Mesir kuno tidak meninggalkan catatan eksplisit apa pun yang merinci gerhana matahari, meskipun peristiwa seperti itu pasti telah diamati oleh para penyembah matahari yang paham astronomi.Â
Beberapa pakar berpendapat bahwa mungkin gerhana sangat menyusahkan dan sengaja tidak dicatat agar tidak "memberikan peristiwa tersebut permanen" atau menggoda dewa matahari Re (Ra).Â
Seorang Egyptologist berpendapat bahwa berbagai referensi tentang bentuk kebutaan yang tampaknya bersifat metaforis selaras dengan tanggal historis gerhana dan mungkin merupakan catatan simbolis dari peristiwa tersebut. Atau mungkin catatan papirus hilang begitu saja seiring berjalannya waktu.