Sinergi Industri: Perguruan Tinggi Perlu Jembatan Tol
- VIVA | Teguh Joko Sutrisno (tvOne)
“Ini adalah kesenjangan yang menjadi persoalan besar bagi bangsa Indonesia. Kondisi ini menyebabkan jumlah pengangguran terdidik menjadi semakin besar,” ungkapnya.
Dari data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 menunjukkan sebanyak 5,25 lulusan perguruan tinggi menjadi pengangguran. Angka tersebut paralel dengan 842.378 orang.
Untuk itu, kata dia, kendala yang menghalangi sinergi perguruan tinggi harus segera diatasi. Pulau akademisi dan praktisi yang selama ini hanya dihubungkan oleh pelabuhan kecil, harus difasilitas alat perhubungan yang lebih massif.
“Agar pertukaran manfaat antara keduanya berjalan optimal, kita perlu siapkan jembatan tol yang membuat aliran pengetahuan bisa berjalan terus-menerus tanpa mengenal waktu,” tegasnya.
Empat Kendala
Ilustrasi mahasiswa perguruan tinggi.
- ANTARA FOTO/Ampelsa
Memang tidak mudah untuk mewujudkan sinergi industri dan perguruan tinggi secara ideal. Keduanya memiliki latar belakang historis, orientasi ideologis, dan budaya yang berbeda. Empat aspek yang paling berperan menghalangi sinergi keduanya adalah perbedaan orientasi, sumber otoritas, tujuan, dan hasil akhir.
Orientasi perguruan tinggi dan industri memang berbeda. Orientasi perguruan tinggi adalah kepada pengembangan pengetahuan baru melalui penelitian, pengajaran, dan pengabdian kepada masyarakat. Adapun industri cenderung lebih pragmatis karena berorientasi pada penerapan pengetahuan dan keterampilan untuk melayani pasar.
Sumber otoritas dalam lingkungan perguruan tinggi adalah lembaga-lembaga akademis, seperti jurnal ilmiah, laboratorium, dan lembaga pengindeks seperti Scopus dan semacamnya. Adapun otoritas industri adalah pasar. Keberhasilan industri diukur melalui kemampuannya menyelesaikan masalah konkret di masyarakat secara komersial.
Perguruan tinggi cenderung memperluas pengetahuan dan memberikan kontribusi pada literatur ilmiah. Untuk mendapatkan kebaruan, masyarakat perguruan tinggi cenderung melakukan riset-riset dasar yang menghasilkan grounded theory. Adapun industri cenderung menghasilkan riset-riset terapan yang hasilnya dapat langsung diterapkan dan dikomersilkan.
Puncak dari perbedaan tersebut adalah hasil kerja. Industri cenderung secara gamblang menjadikan keuntungan finansial sebagai tujuan. Meskipun industri juga memiliki tanggung jawab sosial, keuntungan finansial adalah alat ukur yang paling utama. Perguruan tinggi cenderung mengejar pengakuan akademis atau rekognisi kepakaran.
Empat perbedaan fundamental ini telah menciptakan tembok penghalang yang membuat berbagai inisiatif sinergi industri dan perguruan tinggi belum sepenuhnya berhasil. “Sekalipun konsep link and match dan merdeka belajar telah diterapkan, dampak sosialnya belum cukup signifikan. Hingga hari ini industri dan perguruan tinggi tampak seperti dua pulau terpisah tanpa jalan penghubung yang memadai,” jelasnya.