Bahaya Perawatan Berlebihan Kemoterapi pada Pasien Kanker

Ilustrasi sel kanker.
Sumber :
  • Pixabay/skeeze

VIVA.co.id – Pro dan kontra kemoterapi, sebagai terapi pasien kanker, masih cukup banyak ditemui. Salah satunya, informasi yang menuturkan bahwa kemoterapi malah memicu terjadinya kanker jenis kedua pada para pasien kanker.

Lebih dari 400 Ribu Kasus Kanker Baru di Indonesia, 70 Persen Terlambat Didiagnosis

Saat kemoterapi dilakukan, pasien kanker tidak bisa lepas dari obat-obatan yang harus dikonsumsi seperti antrasiklin. Namun, tidak sedikit obat-obatan tersebut malah memicu serangan kanker jenis lainnya, pada pasien kanker.

"Ada beberapa golongan secondary cancer (kanker jenis kedua yang timbul pada penderita kanker) yang disebabkan oleh obat kemo. Biasanya, ini terjadi karena overtreatment obat kemo pada pasien kanker itu," ujar spesialis penyakit dalam, Dr. dr. Nugroho Prayogo SpPD-KHOM., kepada VIVA.co.id beberapa waktu lalu.

BPOM Terbitkan Izin Edar Untuk Dua Obat Terapi Kanker, Berapa Efikasinya?

Perawatan pasien kanker dengan obat kemo yang berlebihan, dituturkan Nugroho, dapat merusak DNA dan sel yang sehat. Sehingga, pemakaiannya harus disesuaikan dengan kebutuhan individu.

"Kalau memang pasien itu tidak butuh obat kemo, ya jangan diberikan. Kalau saat pasien tidak butuh obat kemo, tetapi malah tetap diberikan, bahayanya bisa picu kanker kedua itu," paparnya.

Menkes Budi Gunadi: Penyakit Kanker Bisa Diobati dengan Melakukan Skrining Lebih Awal

Untuk itu, Nugroho menegaskan, pentingnya melakukan kajian secara detail pada pasien kanker, khususnya pada gen di tubuhnya. Sebab, dari gen tersebut, dapat terlihat apakah pasien tersebut membutuhkan tindakan kemoterapi atau tidak.

"Selidiki keganasan kanker dari gen-nya. Cek dengan mammaprint, agar terlihat detail dari setiap gen di tubuhnya, apakah membutuhkan obat kemo, atau tidak." (asp)

Vidi Aldiano

Kanker Menyebar Cepat, Vidi Aldiano Jalani Pengobatan Bolak-balik Indonesia Malaysia

Kini, Vidi tengah fokus ke proses pengobatannya. Pria berusia 35 tahun itu mengungkap, penyembuhannya saat ini menggunakan jenis obat baru yang memiliki efek lebih keras.

img_title
VIVA.co.id
13 Juni 2025