Libur Lebaran, Waspada Dampak Negatif Game Online Berbahaya pada Anak!
- Pexels/RDNE Stock Project
JAKARTA – Bermain game online menjadi salah satu kegiatan yang umum dilakukan baik orang dewasa maupun remaja. Terlebih di momen libur lebaran seperti saat ini. Tidak sedikit dari orang tua yang memberikan kebebasan untuk anak-anak mereka bermain game online.
Berbicara mengenai game online, diketahui bergam jenisnya. Salah satunya adalah genre peperangan atau battle royale seperti PUBG, Apex Legend, hinngga Rings of Elysium. Permainan ini disebut-sebut mampu memberikan efek keseruan selama bermain.Â
Namun ternyata beberapa masalah serius pernah terjadi akibat bermain game online ini. Beberapa orang melakukan tindakan kekerasan terhadap orang sekitar lantaran menonton atau bermain game online yang menampilkan kekerasan.
Lantas benarkah video game yang mempertunjukkan kekerasan dapat mempengaruhi seseorang untuk bisa melakukan kekerasan? Melansir lama Youth Violence Prevention Center, para peneliti melaporkan adanya keterkaitan antara game online kekerasan dengan perilaku yang lebih agresif, terutama yang berkaitan dengan anak-anak yang berada pada tahap lebih sensitif dalam sosialisasi mereka. Dampak-dampak ini ditemukan sangat besar dalam kasus kekerasan virtual yang diprakarsai oleh anak-anak.
Dalam sebuah penelitian terhadap 161 anak berusia 9 hingga 12 tahun dan 354 mahasiswa secara acak ditugaskan untuk memainkan video game yang menunjukkan kekerasan atau non-kekerasan. Para peserta kemudian memainkan permainan komputer lain di mana mereka menetapkan tingkat hukuman yang akan diberikan kepada orang lain yang berpartisipasi dalam penelitian ini (mereka sebenarnya tidak diberikan).Â
Informasi juga dikumpulkan mengenai riwayat perilaku kekerasan terkini dari masing-masing peserta; kebiasaan main video game, nonton televisi, dan kebiasaan beraktivitas, serta beberapa variabel kontrol lainnya.Â
Para penulis melaporkan tiga temuan utama: pertama peserta yang memainkan salah satu video game kekerasan akan memilih untuk menghukum lawan mereka dengan ledakan dengan tingkat kebisingan yang jauh lebih tinggi dibandingkan mereka yang memainkan permainan tanpa kekerasan.
Kedua, kebiasaan terpapar media yang berisi kekerasan dikaitkan dengan tingkat perilaku kekerasan yang lebih tinggi belakangan ini.
Ketiga, bentuk-bentuk kekerasan media yang interaktif lebih terkait erat dengan perilaku kekerasan dibandingkan paparan terhadap kekerasan media non-interaktif.