Balapan Sapi ala Minangkabau Mendunia
- VIVA.co.id/Andri Mardiansyah
VIVA.co.id - Pacu jawi alias balapan sapi ala masyarakat Minangkabau mulai dikenal dunia. Permainan tradisional alek nagari di Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, yang diselenggarakan di area persawahan setiap Sabtu itu menarik perhatian masyarakat mancanegara.
Mulanya para fotografer penasaran dengan balapan sapi itu, kemudian ramai-ramai datang ke Tanah Datar, beberapa tahun lalu. Sejumlah foto hasil bidikan mereka menjuarai lomba foto tingkat lokal, nasional maupun dunia. Satu di antaranya ialah foto pacu jawi karya Wei Seng Chen, fotografer asal Malaysia, yang menjuarai kategori Sports Action Single di World Press Photo Contest tahun 2013.
Tradisi pacu jawi sejatinya sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Awalnya menjadi sarana hiburan yang sangat ditunggu masyarakat setiap hendak memasuki musim tanam padi sawah tiba.
Sebelum dihelat di area sawah warga yang sudah ditentukan, sejumlah tradisi lokal lain pun ikut menyemarakkan alek pacu jawi, di antaranya arak-arakan sapi, arak-arakan pembawa dulang atau jamba yang berisi makanan. Semua alek kerap diiringi musik talempong dan gendang tasa.
Kebanjiran turis
Sejumlah tokoh masyarakat Tanah Datar, beberapa tahun lalu, sepakat menggeliatkan lagi pacu jawi. Tak hanya melestarikan nilai budaya, pacu jawi mampu menyedot perhatian dunia. Hampir setiap Sabtu, Tanah Datar kebanjiran wisatawan, terutama yang berasal dari beberapa negara tetangga.
![]()
Pacu jawi sudah menjadi agenda tahunan Kabupaten Tanah Datar. Selain menyedot turis mancanegara, pacu jawi juga mampu meningkatkan taraf perekonomian warga setempat. Setiap ada pacu jawi, banyak warga yang membuka warung nasi dan kopi.
Kini, setiap tahun, pacu jawi diselenggarakan secara bergiliran selama empat minggu berturut-turut di empat kecamatan di Tanah Datar, yaitu Pariangan, Rambatan, Lima Kaum, dan Sungai Tarab. Kota Sawahlunto juga mulai menyelenggarakan pacu jawi untuk menarik minat wisatawan.
Balapan dramatis
Apa sebenarnya daya tarik pacu jawi sehingga mencuri perhatian wisatawan dari berbagai belahan dunia. Pacu jawi jelas berbeda dengan karapan sapi di Madura. Berpacu di lintasan basah sawah dengan dua ekor sapi yang dikendarai seorang joki, menjadi daya tarik tersendiri. Apalagi sang joki terkena cipratan lumpur sehingga menambah dramatis foto yang dihasilkan.