SOROT 505

Bertahan di Tengah Arus Zaman

Balla Lompoa, rekonstruksi dari istana Kerajaan Gowa
Sumber :
  • VIVA/Yasir

Namun, menurutnya, tidak semua benda-benda berbau sejarah ini merupakan bentuk asli. Banyak artefak peninggalan HB I dan II yang hilang dibawa penguasa saat itu, Thomas Stamford Raffles  dari Inggris, sehingga harus dibuat ulang. Manuskrip tersebut dibawa ke Inggris, namun tidak semuanya sampai Benua Biru. Sebab tidak sedikit kapal pembawa artefak atau manuskrip yang karam.

img_title Situs Kerajaan Islam Terbesar Jadi Tempat Pembuangan Tinja

"Ada bendera Kanjeng Kyai Tunggul Wulung dan Kyai Pari Anom yang menyerupai surat Al Kautsar yang hanya disimpan di kotak didalam keraton dan hanya dikeluarkan setiap grebeg tahun, atau hanya dikeluarkan delapan tahun sekali. Ada 60 tiang di pegelaran Keraton Yogyakarta yang juga menunjukkan umur dari Nabi Muhammad," katanya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kesultanan Cirebon

img_title Kesultanan Banten Riuh Gara-gara Ada Pria Mengaku Sultan

Selain Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Ngayogyakarta, kerjaan Islam lain yang masih ada adalah Cirebon. Menelusuri situs www.historyofcirebon, awal pembentukan kerajaan ini dimulai dari pendirian desa Cirebon yang sebelumnya bernama Caruban-Sarumban oleh Ki Danu Sela yang kemudian dijuluki Ki Gedeng Alang-alang. Figur ini kemudian menjadi kepala desa atau kuwu pertama.

Gedeng Alang-alang menjabat sebagai Syah Bandar Pelabuhan Muara Jati  kerajaan Pajajaran. Desa yang didirikanya kemudian menjadi ramai oleh para saudagar yang memang sebelumnya berlabuh di Pelabuhan Muara Jati.

img_title Seville, Kota Cantik Bukti Kejayaan Islam di Spanyol

Meskipun ramai, pada masa kepemimpinannya, Cirebon tidak mendapatkan perhatian serius dari pusat Kerajaan Pajajaran. Pelabuhan Muara Jati pada era itu kalah Pamor dengan Pelabuhan Cimanuk di Indramayu.

Keadaan itu berubah setelah Walangsungsang memperistri Nyai Retna Riris atau Nyai Kencana Larang yang merupakan anak dari Ki Gedeng Alang-alang. Setelah Ki Gedeng Alang-alang wafat, Walangsungsang alias Cakrabuana mewarisi jabatan sebagai Kuwu Cirebon.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pada masa pemerintahan Walangsungsang inilah, Cirebon mendapat perhatian serius dari pusat Kerajaan Pajajaran. Walangsungsang disebut sebagai seorang pangeran yang terbuang, yang terasing dari Istana, anak Parabu Siliwangi dengan Nyimas Subang Larang.

Hingga kemudian Sang Prabu mengirimkan Payung Kandaga kepada anaknya tersebut sebagai tanda bahwa Walangsungsang telah diangkat menjadi Adipati atau Penguasa pesisir utara Cirebon, dengan gelar Sri Magana. Meskipun dengan catatan, Cirebon harus mengirimkan pajak berupa trasi (penyedap rasa masakan) ke Pajajaran setiap tahunnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut