- Twitter.com/@realDonaldTrump
Keduanya mencontohkan bagaimana frame-circuit aktif dan semakin menguat ketika Nixon mengatakan, "Saya bukan penjahat," tapi malah membuat publik semakin percaya bahwa dia adalah penjahat.
Belakangan, setelah skandal Cambridge Analytica's terbongkar kata-kata 'Crooked Hillary' diketahui memang dilontarkan dengan perencanaan matang. Dalam sebuah laporannya di Channel 4 Inggris, CEO Cambridge Analytica's Alexander Nix mengklaim, pihaknya telah mengatur pertumbuhan virus kata di dunia maya dari beberapa narasi paling merusak dan salah tentang Hillary Clinton, termasuk 'Crooked Hillary.'
![]()
HIllary Clinton. (Twitter.com/HillaryClinton)
Penggunaan kata untuk mengubah persepsi sudah dibuktikan keefektifannya oleh Trump dan timsesnya. Meski efektif, namun cara ini mengkhawatirkan. "Ini merupakan ancaman eksistensial terhadap demokrasi," ungkap Lakoff dan Duran. Kalimat dan kata-kata mampu menajamkan cara berpikir, dan itulah yang biasa digunakan sebagai teknik manipulasi.
Ilmuwan, marketing, biro iklan, dan sales sangat paham bagaimana membuat kata-kata yang akan diingat dengan baik oleh publik. Ada tiga cara yang biasa mereka lakukan untuk memanipulasi pikiran, yaitu membangun karakternya, lalu terus menerus diucapkan dan diulangi, dan berikutnya mengajak orang lain untuk mengulangi hal yang sama dengan cara menyerang mereka dengan karakter yang sudah ia bangun.
"Tapi tak semua editor dan reporter paham hal ini. Jadi, media akan berada dalam posisi tidak menguntungkan ketika mereka berhadapan dengan seorang penjual ulung yang memiliki kemampuan naluriah untuk memanipulasi pikiran," ujar keduanya.
Dan sekarang, media di Indonesia juga mulai tergiring. Penggunaan kata dan diksi recehan terus dilontarkan ke dua kandidat, dan media membantunya menjadi semakin besar. Persis seperti yang dilakukan oleh Trump, dilontarkan, diulang terus menerus oleh media, dan hasilnya adalah perubahan persepsi.
Bisa jadi kedua kandidat ingin meniru keberhasilan Trump, dan itu sah saja. Politik memang seni memenangkan pertarungan, tapi haruskah segala cara dilakukan?
Apalagi seperti yang dikhawatirkan Lakoff dan Duran, bahwa apa yang dilakukan Trump adalah ancaman eksistensial terhadap demokrasi. Jika cara ini berhasil, mungkin kelak demokrasi tinggal utopia. (ren)