- ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra
Bagi Revy, ramadan adalah momentum silaturahim, sekaligus momen untuk melatih diri menahan nafsu, dan menahan emosi. Ia mengaku secara rutin, setiap tahun saat ramadan, ia dan kawan-kawannya akan berjualan takjil atau makanan untuk berbuka puasa. Hasil yang mereka dapatkan digunakan untuk memberikan santunan kepada yatim piatu.Â
Ardita dan Revy sama-sama menolak sahur on the road. Bagi keduanya, kegiatan itu lebih banyak melencengnya. "Ujung-ujungnya cuma bikin ruwet jalan, kadang juga cuma mau eksis," ujar Revy.Â
Sementara Ardita melihat, kegiatan sahur on the road sekarang lebih banyak digunakan sebagai ajang mejeng, atau pamer. Itu sebabnya ia tak pernah tertarik jika diajak untuk ikut sahur on the road.
Cara Fekum Ariesbowo, Karyawan BUMN PT Wijaya Karya menyambut datangnya ramadan ternyata berbeda dengan Revy dan Ardita. Meski sama-sama generasi milenial, namun beda usia tetap membawa pengaruh dalam cara pandang mereka untuk menikmati ramadan dan merayakannya sebagai bagian dari keyakinan beragama.Â
Feskum menganggap, ramadan sebagai bulan yang istimewa, bulan yang penuh maghfirah, yaitu bulan dimana kekeluargaan, kekerabatan, silaturahim, mencapai puncaknya. Dan menurut Feskum, dengan nilai-nilai itu semua, mau tidak mau ukhuwah harus ditingkatkan bagaimanapun caranya.Â
![]()
Pengajian Ramadan
Ia merasa senang karena setiap ramadan, kantor memajukan jam kerja sehingga dampaknya ia bisa pulang lebih awal. Meski demikian ia tetap berusaha ikut aktif dalam berbagai kegiatan menyambut Ramadan yang digelar kantornya.Â
"Ada semacam kajian, buka bersama dengan lingkungan sekitar, bahkan ada juga satu kesempatan dimana kami membagikan ifthar di sepanjang jalan depan kantor kami bagi para pengendara, setiap sore," ujarnya menambahkan.
Feskum mengaku sangat menikmati bulan ramadan. Apalagi kantor tempatnya bekerja juga memberikan dukungan pada berbagai aktivitas yang dilakukan karyawan saat ramadan.Â
"Kita secara rutin selalu diberikan kesempatan untuk buka bersama. Ketika waktu Zuhur kita diberikan siraman rohani berupa kajian-kajian konstruktif, dan pada waktu-waktu tertentu kita datang ke lokasi atau ke tempat project dimana ada lingkungan yang kaum papanya memang harus dibantu. Jadi kita yang jemput bola untuk membantu, bukan orang-orang datang ke kita, kita yang ke sana," tutur Feskum.Â