- VIVAnews/ Andri Mardiansyah.
Menteri Perdagangan Republik Indonesia Agus Suparmanto mengatakan, akan menghentikan impor makanan dan minuman dari China ke Indonesia. Penyetopan impor sejumlah barang dari China itu karena dikhawatirkan virus corona akan masuk melalui makanan dan minuman yang dikonsumsi masyarakat.
Duta Besar China untuk Indonesia Xiao Qian merespon rencana penghentian sementara impor makanan dan minuman dari negara asalnya itu. Menurut Xiao Qian sampai saat ini belum ada bukti virus corona bisa ditularkan lewat barang-barang impor dari negaranya. Ia mengklaim telah memastikan hal itu dengan Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO.
"Menurut kami dalam situasi ini kita harus tenang, tidak perlu bereaksi berlebihan (over react) yang akan memberikan dampak negatif terhadap perdagangan, investasi dan pergerakan orang yang normal," kata Xiao Qian saat memberikan konferensi pers di Kediaman Resmi Dubes China, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa 4 Februari 2020 lalu.
Duta Besar China untuk Indonesia Xiao Qian
Ia menilai, penyetopan impor barang dari China dapat merugikan hubungan kedua negara dan memberi dampak negatif kepada hubungan kerja sama yang akan datang. Xiao Qian mengatakan, Pemerintah China saat ini tengah fokus pada penanganan wabah virus corona dan mengambil tindakan yang paling ketat untuk menangani penyebaran virus tersebut. Dia menegaskan, China sangat percaya diri dan berkemampuan untuk mengontrol penyebaran corona, termasuk dari makanan dan minuman yang diproduksi di sana.
"Kita berharap pihak Indonesia bisa memandang pencegahan dan penanggulangan secara objektif, rasional dan ilmiah serta mematuhi international health regulation serta mengambil pencegahan rasional dan bukan berlebihan supaya menghindari gangguan terhadap hubungan kedua negara."
Kementerian Perhubungan juga mengambil langkah serupa. Guna memaksimalkan pencegahan, mereka dengan menghentikan sementara penerbangan dari dan ke China. Kebijakan itu dilakukan sejak 5 Februari 2020. Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan, kebijakan untuk menghentikan sementara penerbangan maskapai dari dan ke China itu dilakukan dengan pertimbangan masifnya penyebaran virus corona ke berbagai negara di luar China. Budi berdalih, kebijakan itu dilakukan dengan penuh kehati-hatian serta menyesuaikan rekomendasi WHO.