Sumber :
- cultofmac.com
Untuk mendukung sistem biometrik yang baru itu, konsorsium akan mengajak lembaga lain. Misalnya, Nok Nok Labs, laboratorium yang akan mengembangkan sisi arsitektur server, spesial pada otentifikasi peranti keras yang sudah ada, seperti webcam atau pengenalan wajah pengguna.
Selain Google dan PayPal, konsorsium ini terdiri dari beberapa perusahaan teknologi di antaranya LG, BlackBerry, NXP Semiconductor, dan Infineon. Analis pun yakin, satu demi satu produk akan muncul dengan sensor biometrik sebagai fitur keamanan dasar mulai tahun 2014.
Masih lemah
Namun, pemindai sidik jari bukannya tidak punya celah kekurangan. Kinerja sensor ini dilaporkan akan menurun alias aus dari waktu ke waktu. Menurut pakar ilmu komputer Michigan State University Anil Jain, setidaknya generasi sensor sidik jari saat ini harus bisa bertahan dua atau tiga tahun atau lebih dari rata-rata usia ponsel pintar.
Gembar-gembor Apple di media yang mengatakan Touch ID sangat aman, terenkripsi, dan sulit dijebol, pun membuat seorang peretas asal Jerman tertantang. Walhasil, dalam waktu dua hari, menggunakan alat sederhana, sang peretas sukses mengobrak-abrik fitur itu dan menemukan cara untuk meretasnya.
Peretas yang tergabung dalam grup Chaos Computer Club yang berbasis di Berlin, Jerman, itu memanfaatkan foto sidik jari beresolusi tinggi, 2400 dpi, dari material kaca tipis guna membobol TouchID.
Foto itu dipindai ke komputer, lalu dipermak dengan peranti lunak foto editing, sebelum dicetak ke lembar transparan dan melapisinya dengan lem khusus kayu. Setelah kering, lembaran cetak itu kemudian diangkat dan tinggal disentuhkan ke tombol Home pada iPhone 5S guna membobol akses ponsel.
"Selesai. Kami hanya perlu meningkatkan resolusi palsu kami lebih besar dari sensor canggih Apple. Itu saja," kata Starbug, sebutan salah satu peretas.
Peretas itu mengatakan sensor sidik jari tetap rawan dengan peretasan mengingat banyak jejak sidik yang tertinggal di mana-mana. “Kami harap perusahaan teknologi dunia, Apple dan siapapun itu, agar memperhatikan hal ini,” ujar Starbug. (np)
Persisten Lama
Albert Camus, sastrawan Perancis kelahiran Aljazair pernah mengatakan, olah raga tempat terbaik untuk belajar moralitas. Saya diam diam mengamininya. Ia memberi afirmasi
VIVA.co.id
16 September 2026