SOROT 389

Menampung yang Tak Beruntung

Ilustrasi/Belajar di pesantren.
Sumber :
  • VIVA.co.id/Purna Karyanto Musafirian

Pembina Zona Bombong ini mengatakan, untuk operasional pesantren, ia membutuhkan dana sekitar Rp250 juta per bulan. Dana itu untuk membiayai sekitar 700 santri mulai dari makan hingga uang jajan.

img_title Dari Rumah hingga Barang Bekas

Gus Abror mengaku, ia tak mendapatkan bantuan dari pemerintah. Pesantren ini bahkan menolak dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Selain itu, pesantren ini tidak pernah membuat proposal untuk meminta bantuan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Kami tidak suka nyebar proposal,” ujarnya.

img_title Meringankan dengan Ambulans

Ia mengatakan, selama ini pembiayaan pesantren mengandalkan sumbangan dari donator. Menurut dia, banyak donator yang membantu operasional pesantren, salah satunya jemaah Zona Bombong. Meski demikian, pesantren ini tak memiliki donator tetap.

“Kalau bicara akal, nggak masuk akal. Karena sangat tidak mungkin kebutuhan saya yang banyak bisa terpenuhi. Namun faktanya semua terpenuhi,” ujarnya menutup wawancara.

img_title Gunung Semeru Erupsi 3 Kali, Letusan Tertinggi Capai 1000 Meter

Suara azan Ashar terdengar dari masjid yang berada tak jauh dari sekolah dan asrama. Bak laron, ratusan anak beragam usia langsung keluar dari asrama dan ruang kelas.

Mereka meninggalkan semua aktivitas dan bergegas menuju masjid. Sebagian di antaranya tampak berlarian karena takut ketinggalan. Tak mau kalah, Gus Abror pun beranjak. Usai mengambil sajadah dan mengenakan kopiahnya, ia langsung berlalu dan bergegas menyusul “anak-anaknya”.

Roso Budiantoro dan istrinya menyiapkan nasi bungkus gratis untuk dibagikan di program Pagi yang Dahsyat (PYD). Foto: VIVA.co.id/Purna Karyanto Musafirian

Berawal dari Kegelisahan

Di Zona Bombong mereka aktif di sosial kemasyarakatan. Berbagi bahagia

img_title
VIVA.co.id
29 Maret 2016
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut