- VIVA.co.id/Purna Karyanto Musafirian
Pembina Zona Bombong ini mengatakan, untuk operasional pesantren, ia membutuhkan dana sekitar Rp250 juta per bulan. Dana itu untuk membiayai sekitar 700 santri mulai dari makan hingga uang jajan.
Gus Abror mengaku, ia tak mendapatkan bantuan dari pemerintah. Pesantren ini bahkan menolak dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Selain itu, pesantren ini tidak pernah membuat proposal untuk meminta bantuan.
“Kami tidak suka nyebar proposal,” ujarnya.
Ia mengatakan, selama ini pembiayaan pesantren mengandalkan sumbangan dari donator. Menurut dia, banyak donator yang membantu operasional pesantren, salah satunya jemaah Zona Bombong. Meski demikian, pesantren ini tak memiliki donator tetap.
“Kalau bicara akal, nggak masuk akal. Karena sangat tidak mungkin kebutuhan saya yang banyak bisa terpenuhi. Namun faktanya semua terpenuhi,” ujarnya menutup wawancara.
Suara azan Ashar terdengar dari masjid yang berada tak jauh dari sekolah dan asrama. Bak laron, ratusan anak beragam usia langsung keluar dari asrama dan ruang kelas.
Mereka meninggalkan semua aktivitas dan bergegas menuju masjid. Sebagian di antaranya tampak berlarian karena takut ketinggalan. Tak mau kalah, Gus Abror pun beranjak. Usai mengambil sajadah dan mengenakan kopiahnya, ia langsung berlalu dan bergegas menyusul “anak-anaknya”.