- VIVA.co.id/Purna Karyanto Musafirian
“Adik saya meninggal, kebetulan meninggalkan dua anak yatim yang saya handle. Sekali waktu anak-anak itu bilang kepada saya, kalau ada bapak biasanya begini, begini. Saat itu, air mata saya langsung keluar,” ia mengenang.
Demi mendengar keluhan keponakannya tersebut, ia berjanji akan memenuhi semua kebutuhan mereka. “Namun, bagaimana dengan yatim atau yatim piatu yang lain. Dari situ lah inspirasi saya keluar,” ujar ayah empat anak ini.
Awalnya, ia hanya memberi santunan kepada anak-anak yatim di sekitar Cilongok. “Sekadar bagi-bagi uang jajan untuk anak yatim tiap bulan Rp25 ribu per anak,” ujarnya. Kemudian, pada bulan Muharam ia mengumpulkan anak-anak yatim di rumahnya.
“Dalam kesempatan itu saya ngomong, bapak ibu nggak usah susah-susah tentang anak panjenengan, pokoknya anak panjenengan butuh apa tinggal bilang sama saya,” ujarnya menirukan.
Puncaknya, pada Maret 2009, ia bertemu lagi dengan anak-anak yatim dan orangtuanya. “Saya kumpul lagi dan mereka minta saya bikin sekolahan. Dari situ saya mulai merancang bikin sekolahan. Pada 2011 saya mulai bikin SMP,” ujarnya.
Selang empat tahun kemudian, Nurul Huda pun mendirikan madrasah aliyah, sekolah setingkat SMA.
Gus Abror mengatakan, ia sengaja mendirikan sekolah karena banyak anak-anak yatim dan dhuafa yang tak bisa sekolah karena alasan biasa. Menurut dia, banyak sekolah yang memandang mereka sebelah mata, bahkan tak sedikit sekolah yang menolak memberikan keringanan biaya.
“Keinginan saya hanya satu, bagaimana merawat mereka yang memiliki potensi sama, namun tak memiliki kesempatan karena keterbatasan secara materi.”
Seiring berjalannya waktu, Ponpes Nurul Huda tak hanya menerima dan mendidik dhuafa dan anak-anak yatim. Saat ini, pesantren yang digawangi kakak beradik ini juga menerima anak-anak korban perceraian dan anak-anak jalanan.
Selanjutnya...Tak Dipungut Biaya
Gratis
Hari beranjak siang. Puluhan santri terlihat meriung di depan kamar masing-masing. Mereka duduk melingkar menghadap nampan berisi nasi lengkap dengan lauknya.
Setiap nampan dikelilingi sekitar empat hingga lima orang. Tanpa komando dan aba-aba, mereka langsung “menghajar” santap siang tersebut hingga tandas tak tersisa.