- VIVA.co.id/Wahyudi A Tanjung
Kedai Nasi Nita tetap menjual aneka masakan kapau dengan ukuran yang sama dan bumbu yang sama juga. Mulai dari jumlah kelapa yang dibutuhkan hingga ke takaran cabai tetap dipertahankan.
“Semula omzet kami di tahun 1998 itu mencapai Rp1,2 juta per hari, namun karena krisis ekonomi, omzet langsung anjlok hingga Rp750 ribu. Jan kabalabo malah pokok nan tamakan (Jangankan untuk dapat laba, malah modal yang terus habis),” ujar M Rizal.
Dan Kedai Nasi Nita pun berhasil melewati masa krisis itu.
Sejarah Panjang Kapau
Kapau adalah sebuah desa atau di Sumatera Barat bernama nagari di Kecamatan Tilatang Kamang, Kabupaten Agam. Untuk menuju nagari ini mudah sekali. Dari kota Bukittinggi, Anda tinggal mencari Jalan Soekarno-Hatta yang menuju ke arah Payakumbuh. Saat bertemu perempatan Tanjung Alam, beloklah ke kiri, menuju persis ke Nagari Kapau. Secara geografis, Kapau tepat bersisian dengan Mandiangin, Kota Bukittinggi.
Posisi yang bersebelahan dengan Kota Bukittinggi membuat aktivitas warga nagari ini banyak dilakukan di Kota Bukittinggi. Tidak mengherankan, di perantauan, orang-orang Kapau kerap mengidentifikasi dirinya sebagai orang Bukittinggi. Sejak pemerintah kolonial Belanda membangun Kota Bukittinggi, orang-orang Kapau pun turut mengisi sejarah kota ini.
Dalam bukunya yang berjudul “Alam Terkembang Jadi Guru”, AA Navis menyebut ada beberapa nagari-nagari di Minangkabau yang menyemarakkan sejarah Bukittinggi. Masing-masing Nagari memiliki spesialisasi tertentu. Nagari Koto Gadang yang berada di lembah Ngarai Sianok misalnya, memiliki keahlian perak dan emas.
“Perdagangan kelontong oleh orang Kumango, sehingga perdagangan kelontong pernah dikatakan perdagangan kumango. Dalam hal makanan pun mereka (orang-orang Minangkabau—red) mempunyai spesialisasi, seperti gelamai (dodol) oleh orang Payakumbuh, kerupuk oleh orang Sanjai, lemang oleh orang Pitalah, kedai nasi oleh orang Kapau dan Sumpur,” tulis Navis di halaman 120 bukunya. Semua warga dari nagari-nagari itu tumpah-ruah berusaha di Bukittinggi.
Kini Pemerintah Kota Bukittinggi menyediakan los atau bangsal khusus untuk pedagang nasi dari Kapau ini. Los Lambuang atau harfiahnya berarti Los Perut terletak di antara Pasar Ateh dan Pasar Bawah Bukittinggi sehingga disebut pula sebagai Pasar Lereng. Ada puluhan kedai nasi di pasar ini, yang rata-rata didominasi warga Kapau.