SOROT 404

Senjata Bernama Media Sosial

Ilustrasi jejaring sosial
Sumber :
  • REUTERS

Selanjutnya: Tak Hanya Promosi

img_title Doa 12 Tahun Tsunami Aceh Menggema di Jejaring Sosial

Tak Hanya Promosi
PT RGE dan tim newsroom-nya mengklaim, apa yang mereka lakukan murni untuk mengedukasi publik. Laiknya penjaga benteng, tim ini 'berperang' di jejaring sosial demi menjaga nama baik perusahaan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menurut Ignatius, ragam percakapan di media social tak bisa dibendung dan ditangkal. Untuk itu, mereka memilih membangun aset digital lewat kredibilitas. Yakni, tak melibatkan diri dalam perang opini atau isu politik di media sosial.

img_title Setop Kuntit Facebook Mantan saat Natal

"Kita tidak reaktif, lebih positif, proaktif bangun digital aset. Tugas utama hanya membangun edukasi, bukan meng-counter isu," katanya menjelaskan.

Ia menegaskan, tim newsroom 'mengharamkan' penggunaan pasukan siber atau akun robot. Pasalnya, komitmen kredibilitas dan integritas ini yang hendak ditanamkan ke publik.

img_title Media Sosial Dipenuhi Topik Gempa Aceh

"Kalau buat akun palsu, akun robot itu pada akhirnya akan backfire. (Prinsipnya) Bagaimana kita bikin website dengan trafik tinggi dan konten yang diminati publik. Menarik follower secara generik dan bukan yang palsu," ujarnya menambahkan.

Ignatius mencontohkan bagaimana tantangan menanamkan persepsi publik soal perkebunan sawit. Isu sensitif tersebut memang kontroversial terutama di kalangan aktivis dan pemerhati lingkungan. Pasalnya, selama ini perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan sawit, jarang menyentuh konsumen seperti yang dilakukan oleh perusahaan yang bergerak di bidang lain.

"Karena targetnya bukan end user. Perusahaan ini (sawit) tak seagresif perusahaan produk konsumen. Ada gap informasi," ujarnya.

Untuk itu, lewat tim newsroom peluang edukasi kepada publik menjadi penting. Sehingga, perspektif publik soal perusahaan sawit dan sejenisnya bisa berimbang. Hal itu dimulai dari bagaimana kontribusi perusahaan sawit dari sisi ekonomi hingga komitmen perusahaan terhadap keberlanjutan lingkungan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Seringkali publik belum begitu tahu praktik ketat yang dilakukan perusahaan perkebunan. Contoh lahan konsensi HTI (Hutan Tanaman Industri), tak semuanya dipakai. Ada aturannya. Publik tahunya yang jelek. Maka kembali ke digital sosial untuk kembali mengedukasi publik soal kontribusi industri sawit," katanya menerangkan.

Ignatius yakin, keberadaan newsroom telah membuat perubahan, tak hanya bagi PT RGE dan seluruh unit grup bisnisnya namun juga bisa mengedukasi publik. "Dunia digital makin membuat kita transparan. Dengan demikian makin terbuka apa yang kita lakukan. Kami menangkapnya makin positif, terjadi dialog yang semakin bagus."  
(mus)

CEO sekaligus pendiri Twitter, Jack Dorsey.

Ingin Twitter Berubah? Katakan Langsung ke CEO

CEO Twitter buka masukan untuk pengembangan Twitter pada 2017.

img_title
VIVA.co.id
30 Desember 2016
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut