- VIVA.co.id/Dwi Royanto
Semasa kecil, wanita yang akrab disapa Nonie Meneer ini tak hanya diajarkan meracik jamu, namun juga beragam keterampilan rumah tangga seperti merawat tanaman, memasak dan mengurus rumah. Didikan tersebut membuatnya tumbuh menjadi wanita yang disiplin dan kreatif.
Paras Tionghoa Jawa Nonie Meneer yang cantik menarik perhatian pemuda asal Semarang berdarah Tionghoa, Ong Bian Wan. Pemuda yang berprofesi sebagai pedagang tersebut jatuh hati pada Meneer. Tanpa ragu, Ong menyunting Meneer yang saat itu masih berusia 17 tahun. Setelah menikah, muncullah panggilan baru yang melekat hingga kini, Nyonya Meneer.
Dikutip dari laman resmi Njonja Meneer, dikisahkan bahwa pada suatu ketika suaminya jatuh sakit. Ia mengeluhkan sakitnya di bagian perut. Sumber lain menyebutkan, suaminya jatuh sakit karena bekerja terlalu keras akibat kekejaman Belanda.
Namun, pada waktu itu mendapatkan pengobatan yang layak tidak mudah. Sejumlah dokter yang didatangi tak kunjung bisa menyembuhkan. Terdesak, Meneer pun mencoba meracik jamu dari tanaman obat dengan peralatan sederhana, berbekal ilmu yang diajarkan ibunya. Ajaib, suaminya sembuh. Sejak itu Meneer bersemangat mengasah kemampuannya membuat dan meramu jamu.
Ketika usia Meneer menginjak 24 tahun, jamu racikannya mulai dikenal. Kabar mengenai kemampuan Meneer yang jago meramu obat yang mujarab mulai terdengar masyarakat sekitar. Sejak itu Meneer mulai menyebarluaskan jamu buatannya untuk membantu orang-orang di sekitarnya yang sakit.
Nyonya Meneer yang ringan tangan dan peduli pada sesama dengan senang hati meracik untuk mereka yang demam, sakit kepala, masuk angin dan terserang berbagai penyakit ringan lainnya. Semakin banyak yang merasakan khasiat jamu racikan Nyonya Meneer, semakin banyak pula permintaan untuk mengantarkan sendiri jamu yang sudah mulai ia kemas.
Selanjutnya, Bisnis Jamu Terbesar di Indonesia
Bisnis Jamu Terbesar di IndonesiaÂ
Berawal dari niat membantu sesama, Meneer memanfaatkan kemampuannya itu untuk mencari uang. Awalnya, dia mengantarkan sendiri jamu racikannya ke rumah para pelanggannya. Bisnis Nyonya Meneer pun berkembang menjadi industri rumahan berskala kecil. Karena tak sanggup melayani berbagai pesanan sendiri, dia pun merekrut karyawan.