John Herdman

Harapan itu kembali menyala ketika melihat laga timnas Indonesia di bawah pelatih John Herdman
Sumber :
  • Istimewa

DALAM beberapa pertandingan terakhir laga timnas Indonesia saya absen menontonnya secara langsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno atau stadion lainnya dengan alasan yang personal: saya merasa permainannya tak memancing gelora, tak memiliki daya kejut, kemagisan yang biasanya saya temui ketika mereka berlaga dengan logo garuda di dada, di hadapan ribuan pendukungnya hilang. Ini memang subyektif,  sebagai pecinta sepak bola nasional, saya selalu memiliki harapan besar pada timnas sepak bolanya.

img_title Sekolah Baru untuk Republik

Harapan itu kembali menyala ketika melihat laga timnas dengan debut pelatih John Herdman, Jumat pekan lalu. Saraf saraf bulu kuduk saya kembali berdenyar ketika melihat racikan strategi pelatih asal Inggris tersebut. Tentu ini bukan semata skor dan harus diingat lawan memang tidak sepadan, secara peringkat, kita jauh di atas Saints Kitts and Nevis. Negara kepulauan kecil di Karibia ini hanya peringkat 154 dunia.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Namun, sebagai perkenalan, ini debut yang manis. Saya melihat aliran serangan yang rapih. Permainan dibangun dari kaki ke kaki dari lini tengah yang kokoh dijaga trisula Elkan Baggott, Jay Idzes dan Rizki Ridho. Yang berbeda dan tampak modern adalah Herdman tak menggunakan satu playmaker, tiga punggawa ini saling isi, saling berbagi menjadi creator serangan. Pertandingan jadi dinamis dan mobil.

img_title Cape Town Marathon

Yang juga terlihat adalah adanya struktur passing yang sudah terbentuk dengan baik. Bola mengalir cepat dari lini belakang, lini tengah dan lini depan. Tak ada yang berlama memegang bola. Ini kecerdikan Herdman saya kira, jarak antar lini jadi terasa dekat dan bola mengalir cepat. Semua seperti mengambil posisinya dengan jeli, bek bisa maju ke depan, gelandang terus bergerak dan striker bisa turun ke belakang.

Yang baru, saya melihat pembangunan serangan ini berasal dari sebuah instruksi. Herdman tak berhenti memberi perintah pada pemain sepanjang laga. Ia seperti tak bisa diam. Tapi ini memang selera, saya menyukai pelatih yang tak hanya dingin saja di pinggir lapangan. Saya menyukai pelatih yang meledak ledak sebagai pemain ke 12 di lapangan rumput. “Saya memang tak bisa diam, kamu tahu, saya lahir di Newcastle,” kata John pada media.

img_title Arief Rahman Hakim

Kesimpulan saya, ini pertama kalinya Indonesia bermain kembali dengan sistem dan strategi yang jelas, bukan hanya semangat.

Saat laga melawan Bulgaria, dalam strategi “parkis bus”, secara statistik, Indonesia tampil sangat dominan dengan mencatatkan penguasaan bola hingga 64 persen. Aliran bola dari lini belakang yang dikomandoi Jay Idzes dan Kevin Diks terlihat sangat tenang dan terstruktur.  

Herdman memang datang bukan seperti Patrick Kluivert yang sudah menjadi bintang sebelumnya. Setelah ditinggal oleh Patrick bisa dibilang timnas sepak bola kita porak poranda. Pondasi yang sudah dibangun oleh Shin Tae yong tak disokong, justru dilemahkan. Beruntung Herdman memang pelatih spesial membangun tim yang jatuh, terpuruk dan medioker.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Herdman membangun timnas putra Kanada pada 2018 dalam kondisi lapangan ganti yang cemar oleh keributan, kubu kubuan pemain merajalela, peringkat rendah. Masuk sebagai pelatih underdog,  dengan dingin Herdman membenahi kebobrokan itu. Seperti yang saya baca, yang dilakukan Herdman agak mirip dengan STY, ia membangun motivasi ke pemain satu persatu. Ia membangkitkan kepercayaan diri, tak ada tim yang benar benar gurem, kecuali pikiran pemain yang kerdil. Ia membangkitkan visi kebersamaan dari ruang ganti membawanya ke tengah lapangan. Hasilnya kita tahu ia pernah mengalami 17 pertandingan tak terkalahkan dengan timnas Kanada, masuk ke Piala Dunia setelah 36 tahun.

Kelebihan Herdman adalah ia tak hanya pelatih, ia seorang leader, ia bisa memimpin. Dengan kemampuan memimpinnya (dari melihat rekam jejaknya) saya merasa Herdman cocok memimpin sebuah tim yang pernah terseok seok karena perbedaan karakter, perbedaan asal usul budaya (lokal dan naturalisasi) dan ruang ganti yang pernah bising. Karena bukan superstar, John Herdman hadir lebih rileks, namun punya visi dan imajinasi. Selamat berkiprah! (Ecep Suwardaniyasa)

Pemimpin Redaksi tvOnenews.com, Ecep S Yasa menyelesaikan Cape Town Marathon

Persisten Lama

Albert Camus, sastrawan Perancis kelahiran Aljazair pernah mengatakan, olah raga tempat terbaik untuk belajar moralitas. Saya diam diam mengamininya. Ia memberi afirmasi

img_title
VIVA.co.id
16 September 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut