Cape Town Marathon

Pemimpin Redaksi tvOnenews.com, Ecep S Yasa menyelesaikan Cape Town Marathon
Sumber :
  • Istimewa

Kehadiran elite dunia membuat aura kompetitif marathon ini semakin kuat. Tetapi menariknya, Cape Town tetap terasa hangat untuk pelari amatir. Tidak ada jarak antara elite dan pelari biasa. Semua orang datang dengan alasan yang sama: ingin menaklukkan diri sendiri.

img_title ASEAN Summit dan  Keresahan Oppenheimer

Berlari di Cape Town juga terasa berbeda karena lanskap emosionalnya. Afrika Selatan adalah negeri dengan luka sejarah yang panjang, tetapi juga simbol rekonsiliasi dan harapan.  Ketika kita berlari di kota ini, ada rasa bahwa marathon menjadi metafora perjalanan bangsa tersebut—jatuh, bangkit, dan terus bergerak maju.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dan mungkin itulah mengapa banyak pelari mengatakan Cape Town bukan sekadar race destination. Ia adalah pengalaman spiritual bagi seorang marathoner. Karena di sini, setiap langkah terasa lebih dalam. Kita tidak hanya berlari mengejar finish line. Kita berlari di ujung benua, ditemani laut, gunung, sejarah, dan mimpi besar dunia lari Afrika.

img_title Al Ghazali Beberkan Alasan Pilih Afrika untuk Bulan Madu dengan Alyssa Daguise

Dan ketika akhirnya melewati garis finish di bawah sorakan ribuan orang, ada satu perasaan yang sulit dilupakan: Bahwa Cape Town bukan hanya marathon yang selesai dijalani. Cape Town adalah marathon yang tinggal lama di hati pelari. Ecep Suwardaniyasa

 
img_title Banjir Maut Terjang Afrika Selatan, 49 Orang Tewas dan Puluhan Hilang

Pemimpin Redaksi tvOnenews.com, Ecep S Yasa menyelesaikan Cape Town Marathon

Persisten Lama

Albert Camus, sastrawan Perancis kelahiran Aljazair pernah mengatakan, olah raga tempat terbaik untuk belajar moralitas. Saya diam diam mengamininya. Ia memberi afirmasi

img_title
VIVA.co.id
16 September 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut