Menangkal Radikalisme Anak

Para murid di suatu Sekolah Menengah Pertama berdoa sebelum memulai kegiatan.
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Reno Esnir

Alissa Qotrunnada Wahid
 
Ia menegaskan, mekanisme penerimaan seseorang terhadap nilai-nilai radikal memerlukan proses pengendapan dalam otak, bukan terjadi dengan serta merta. “Tidak segampang orang nyuruh matiin lampu, tapi ada proses inkubasi nilai-nilai yang sangat kuat,” ujar Alissa menambahkan.  
 
Aksi terorisme memiliki sifat yang merusak, bertujuan menimbulkan ketakutan, serta mengubah tatanan yang ada. Demikian halnya dengan radikalisme. Namun, perlu digarisbawahi tidak semua radikalisme menghasilkan terorisme, tapi terorisme dapat berawal dari radikalisme. “Apakah setiap orang yang mengalami radikalisasi pasti menjadi teroris? Tidak. Tapi seorang teroris pasti berawal dari radikalisasi,” kata Alissa.  
 
Sederet aksi teror yang terjadi di Tanah Air, termasuk di antaranya bom bunuh diri, kerap mengatasnamakan agama Islam. Padahal menurut Alissa, sejarah mencatat penggalan cerita bahwa agama dan ideologi apa pun bisa dijadikan alat untuk melancarkan teror. “Terorisme itu tidak melekat pada satu agama tertentu. Semua agama dan semua ideologi bisa dipakai oleh teroris. Misalnya, Stalin pakai komunisme, Nazi dengan ideologi superioritas ras. Dulu juga pernah agama Shikh digunakan untuk teror meledakkan pesawat,” ujarnya.  
 
Ia juga menuturkan bahwa agama dijadikan landasan menyebarkan teror karena dianggap dapat melekat sangat erat pada identitas diri seseorang. Dengan melakukan suatu tindakan atas nama Tuhan, pelaku bisa dengan mudah mengkalim bahwa perbuatannya mulia. Apalagi dengan unsur-unsur doktrin yang mengakar kuat, sebagai implementasi penanaman nilai-nilai radikalisme yang berkesinambungan.  
 
Ndilalah teroris di Indonesia mengatasnamakan Islam. Kenapa? Karena Indonesia mayoritas penduduknya Islam. Makanya dia bisa berkembang,” kata Alissa.  

img_title Kemenag Sebut Dua Pesantren Terindikasi Radikal, Ini Indikatornya


Menjaring Kader di Sekolah

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Radikalisme bukan barang baru di Indonesia. Jika tidak karena suatu peristiwa yang menjadi isu nasional, seperti teror bom beruntun, bisa jadi publik Tanah Air masih belum sepenuhnya membuka mata, ada gerakan yang tanpa sadar merongrong semangat Bhinneka Tunggal Ika.  
 
Lagi-lagi atas nama agama, lengkap dengan atribut religiusnya, gerakan tersebut menjaring anggota baru dengan sistem kaderisasi. Dari perekrutan kader, kemudian terbentuk komunitas yang ditanamkan nilai-nilai radikal. Diingatkan sekali lagi, radikalisasi belum tentu menghasilkan teroris, namun teroris sudah pasti melalui proses radikalisasi.  
 
Direktur Eksekutif Maarif Institute, M. Abdullah Darraz, mengatakan bahwa pada tahun 2011 Maarif Institute mengadakan sebuah riset yang menemukan gejala radikalisme sudah sedemikian rupa masuk ke sekolah dan hingga kini ekskalasinya makin besar.  
 
“Kami melakukan riset di beberapa kota, dan menemukan pola bagaimana kelompok ini melakukan radikalisasi pandangan radikalnya itu di lingkungan sekolah,” kata Darraz dihubungi VIVA pada Kamis, 17 Mei 2018.  

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
img_title Sering Bicara Radikalisme, Istana: Itu Ditujukan ke HTI
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut