Menangkal Radikalisme Anak
- ANTARA FOTO/Reno Esnir
Pola Pikir Kaum Radikal
Dikatakan Alissa, radikalisme di lembaga pendidikan dapat dikatakan sebagai gerakan sosial yang menginginkan hidup bersama kelompok mereka. “Mereka orang-orang yang menginginkan hidup dalam satu kelompok,” ujarnya.
Orang-orang yang radikal menganggap perbedaan itu ada, tapi menganggap kalangan mereka sebagai yang paling unggul. “Mereka mengakui perbedaan tapi merasa superior. Ada yang namanya jenjang ekstremisme, dimulai dari sikap eksklusif, yaitu tidak mau bergaul dengan orang lain dan tidak mau menganggap orang lain sederajat,” katanya.
“Setelah itu bisa muncul sikap superior, yang punya pemikiran begini: karena saya adalah pemilik kebenaran, kalian semua harus tunduk di bawah saya, sebagai warga negara, kita juga beda, kami lebih berhak mengatur negara ini. Cara mereka melihat perbedaan itu begitu. Semua harus diatur dengan cara dia,” terang Alissa.
Fase superioritas dapat berkembang menjadi intoleransi, yang pola pikirnya dapat mengacu pada keyakinan bahwa orang lain tidak berhak ada. “Semuanya harus atas kepentingan saya, kalau kamu mau hidup di sini kamu harus tunduk pada kemauan saya,” ujar Alissa memberi contoh.
Keluarga Benteng Utama
Jika sudah tepat pemahaman kita tentang bahaya radikalisme dan penetrasi yang mereka gunakan untuk masuk ke pemikiran generasi muda, selanjutnya langkah apa yang bisa kita lakukan agar keluarga dan anak tidak terpapar radikalisme?
Menurut Alissa, pertama kali orangtua harus yakin nilai apa yang ingin ditanamkan pada anak. “Pesan saya adalah orangtua memikirkan betul nilai apa yang akan ditanamkan pada anak? Lalu, setelah itu benar-benar menanamkannya jangan cuma dipikirkan saja,” kata Alissa.
“Saya pernah ikut seminar dengan para orangtua, dan ketika mereka ditanya, ingin anak jadi apa? Jawabnya anak yang bertakwa. Yang bertakwa itu yang bagaimana? Katanya yang rajin salat. Tidak cukup hanya itu. Seharusnya ditanamkan, ingin anak menjadi pribadi yang adil, yang bangga menjadi orang Indonesia, yang menyayangi sesama, itu semua nilai-nilai Islami,” ujar Alissa.
Dalam perspektif agama Islam, Alissa menjelaskan bahwa ada nilai yang diajarkan oleh tokoh dan ulama besar Nahdlatul Ulama dalam menjalani kehidupan, yaitu: bahwa orang Islam perlu menegakkan tiga pondasi persaudaraan secara bersama-sama. Pertama, persaudaraan sesama Muslim, kedua persaudaraan sesama warga bangsa, dan ketiga persaudaraan sesama manusia.
“Jadi kalau ketiga-tiganya dia pegang, berarti dia akan menjalin hubungan yang baik dengan yang bukan Islam tapi sesama bangsa dan sesama manusia,” kata Alissa.