Dari Minuman Berkarbonasi ke Smartphone
- Trusted Review
VIVA.co.id - Sepertinya, saat ini, hampir semua perusahaan tergiur dengan bisnis smartphone. Awalnya memang hanya rumor, namun bulan lalu, tepatnya pertengahan November, perusahaan minuman bersoda, Pepsi membenarkan rumor ini keterlibatannya dalam mengembangkan sebuah ponsel pintar berbasis Android.
Setelah Pepsi, belakangan beredar rumor jika Coca Cola pun akan memasuki bisnis yang sama. Perusahaan itu dikabarkan telah mendapatkan desain smartphone yang sangat ‘coca cola’ dan siap dikembangkan. Meski hanya konsep, rencana itu akan terwujud jika Coca Cola mau menyisihkan sebagian dananya untuk mengembangkan smartphone tersebut.
Banyak pihak yang mempertanyakan apa yang menyebabkan perusahaan minuman soda ini berlomba menawarkan smartphone yang dikostumisasi sedemikian rupa. Padahal pendapatan perusahaan masih cukup besar. Namun memang kedua perusahaan cola ini bersaing ketat dalam industri. Untuk urusan merek paling bernilai, Coca Cola masih mengungguli Pepsi.
Coca Cola berada di posisi keempat sebagai merek paling bernilai versi majalah Forbes. Brand ini memiliki nilai sekitar US$56 miliar dengan dana iklan secara global mencapai US$3,5 miliar. Sedangkan Pepsi berada jauh diurutan ke-29 dengan nilai merek US$19 miliar dan nilai iklan global mencapai US$2,3 miliar.
Pendapat lain mengatakan, seperti dilansir melalui en.yibada.com, Pepsi dan Coca Cola ingin bersaing dalam urusan iklan digital, khususnya di smartphone. Alih-alih ingin berada di semua platform iklan digital yang ada, Pepsi pun memilih untuk membuat platform sendiri, berupa smartphone P1. Di gadget besutannya ini, Pepsi bisa dengan bebas memasukkan format iklan digital apa saja. Apalagi, dengan membuat smartphone sendiri, Pepsi akan dibebaskan dari pengeluaran iklan setiap tahunnya. Artinya, Pepsi mendapatkan kesempatan untuk bisa beriklan gratis selama-lamanya.Â
Diketahui, pangsa pasar minuman berkarbonasi dikuasai Pepsi dan Coca Cola. Selain brand value Pepsi yang kalah dengan Coca Cola, pangsa pasar Pepsi juga masih kalah. Di Amerika saja, Pepsi Cola hanya memiliki pangsa pasar sekitar 8,8 persen, dibanding Coca Cola yang mencapai 17,6 persen.
Bisa jadi, penurunan penjualan yang dialami minuman berkarbonasi membuat Pepsi dan Coca Cola memillih untuk mengetes pasar untuk bisnis yang berbeda, smartphone. Seperti diberitakan Research and Markets, pasar minuman berkarbonasi mengalami pertumbuhan CAGR hanya 2,15 persen dan 2,04 persen, sepanjang 2014 sampai 2019. Pertumbuhan yang kecil ini tidak hanya terkait dengan pendapatan tapi juga volume.