Drone Amfibi, Pengawal Pertahanan RI

Drone OS Wifanusa
Sumber :
  • VIVA.co.id/Agus Tri Haryanto

Dia mengatakan, dengan profil Indonesia yang dikenal sebagai negara maritim dengan wilayah yang lebih banyak airnya, Wifanusa tidak perlu mencari landasan. Tapi, di air sudah bisa mendarat atau terbang.

img_title Drone Buatan Penghina Jokowi Dibeli Kementerian Pertahanan

Drone berwarna hijau dan tampak menyerupai helikopter versi mini ini, dapat lepas landas pada ketinggian 5.000 meter atau 15.000 kaki di atas permukaan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pesawat tanpa awak yang akan diserahkan ke Kementerian Pertahanan pada Juni 2016 ini, dapat mengangkasa 8-10 jam dengan bahan bakar Pertamax.

img_title Drone Ongen Pesanan Kemenhan Segera Rampung

"Daya jelajahnya sampai 500 kilometer. Wifanusa dapat mendarat atau terbang di atas lautan yang tenang, bukan kondisi badai," ucapnya.

Proses pembuatan Wifanusa ini menghabiskan waktu riset sekitar tiga tahun. Namun, terkait biaya, Yosa menolak untuk membeberkannya. Tapi pastinya, Kementerian Pertahanan memesan drone amfibi itu sebanyak dua unit.

img_title VIDEO: Drone Ini Bisa Beroperasi di Udara dan Air

"Bulan Mei akan selesai masa uji cobanya dan pada Juni kami akan serah terima dengan Kementerian Pertahanan," kata dia.

Selanjutnya...Pantau Wilayah Terluar

Drone bertitel OS Wifanusa ini direncanakan menjadi benteng pertahanan Indonesia untuk memantau wilayah terluar.

Anca Auliansya, dari Manajemen Produksi dan Pelatihan Trimitra Wisesa Abadi, mengatakan, pemesanan UAV yang bisa lepas landas dan mendarat di darat, atau pun air, seperti sungai, danau, hingga laut ini dilengkapi tiga buah kamera. Masing-masing kamera mengusung resolusi 80 megapiksel.

"Kamera pertama merekam video, kamera kedua untuk pemetaan, dan kamera satu lagi digunakan sebagai alat tracking," ujar dia.

UAV ini digunakan untuk memantau wilayah perbatasan dan wilayah terluar Indonesia yang sebagian besar merupakan laut.

Wifanusa ini memiliki kemampuan sistem kendali jarak jauh mencapai 100 kilometer untuk menerima data yang direkam secara real time, atau bisa streaming video. Sistem pada UAV ini, juga mempunyai kekuatan berupa terbang secara auto yang dilengkapi dengan sistem navigasi dan telemetri yang akurat.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Wifanusa punya keunggulan lainnya untuk melaksanakan operasi pengawasan dan melakukan foto udara untuk keperluan pemetaan," ucapnya.

Teknologi pesawat tanpa awak sebenarnya sudah mulai dikembangkan sejak 2004. Selanjutnya, pada 2013, Badan Penerapan dan Pengkajian Teknologi (BPPT) mulai menyiapkan program perintis industrialisasi untuk memproduksi pesawat udara nir awak (PUNA) yang diberi nama Wulung itu secara massal.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut