AADC 2, Menjual Nostalgia 14 Tahun Silam
- VIVAnews/Anhar Rizki Affandi
Dan jika di AADC 2 ini membludak, lanjutnya, berarti penonton ingin melihat secara langsung kelanjutan film yang fenomenal di 14 tahun lalu itu. Bagi Daniel, ini sangat wajar jika tiket yang disediakan selalu ludes. Dan ia meyakini, hadirnya film ini, karena sudah dipertimbangkan oleh para pembuatnya.
Namun, jika dibandingkan dengan sekuel film-film Hollywood, sekuel film Indonesia memiliki orientasi yang berbeda. Daniel pun menilai, film AADC 2 ini memang dibuat sesuai ekspektasinya. Sementara di luar negeri, film sekuel laku keras, karena diadopsi dari komik komik dan imajinasi yang luar biasa kerennya, yang terkadang tidak terpikir oleh siapa pun.
"Nah, kalau di Indonesia dibuat sekuel banyak yang nggak laku. Di sini sekuel suka ke luar dari jalurnya, jadi enggak dapat 'nyawa' dalam film itu sendiri," ujarnya.
Dengan kata lain ia mengatakan, sekuel di luar negeri benar-benar menjual kualitas film. Sementara sekuel di Indonesia, lebih banyak berorientasi pada uang. "Nah di sini saya sudah menyaksikan sendiri kelanjutan film AADC 2, di sini mereka menyuguhkan chemistry yang masih sama seperti 14 tahun yang lalu."
Dari segi musik, akting, suasananya luar biasa berbeda dari film yang ramai di bioskop beberapa tahun terakhir ini. Dan sama seperti 14 tahun lalu, film AADC 2 hadir di tengah 'kemarau' film-film tanah air yang monoton.
Daniel pun yakin, suksesnya film-film sekuel ini ke depannya bukan hanya sebagai euforia. Baik kualitas maupun jalan cerita diharapkannya bisa lebih bagus.
"Ada beberapa film yang memiliki kualitas luar biasa. Saya nggak mau menyebutkan film itu apa saja, karena khawatir mendiskriminasikan film yang ada."
"Harusnya suksesnya film sekuel ini bukan sekadar euforia saja. Jangan nanti ujung-ujungnya usaha melanjutkan film dikalahkan dengan usaha satu pihak, 'jualan'. "