Angin Segar Alutsista dari Rusia
- REUTERS/Sergei Karpukhin
Namun tahun 1990-an, kasus Timor Timur membuat AS memberlakukan embargo pada Indonesia. Dengan alasan Indonesia melanggar HAM di Timor Timur, AS menolak menjual senjata pada Indonesia. Embargo senjata dan suku cadangnya yang diberlakukan AS membuat Indonesia kembali melirik Rusia. Meski tahun 2005, Presiden AS George W.Bush memutuskan mengakhiri embargo senjata AS pada Indonesia, karena Bush menganggap Indonesia sebagai mitra penting AS untuk membasmi terorisme, namun Indonesia memilih tak sepenuhnya mempercayakan pengadaan alutsista pada AS. Indonesia memilih menguatkan kerja sama militer dengan negara pemasok alutsista, termasuk Rusia.
Menurut Nuning, sikap Indonesia yang memilih kembali terbuka pada Rusia tak masalah. “Setiap produk alutsista pasti punya kelebihan dan kekurangan. Itu biasa saja, yang penting pembelian jangan dibebani dengan perjanjian diplomasi yang bersifat politis dan cenderung tak menguntungkan kita,” ujarnya. Nuning menyarankan, pembelian alutsista dari negara lain sebaiknya dilakukan bila RI belum bisa atau tak dapat memproduksinya.
Sebagai mantan anggota Komisi I DPR RI periode 2009-2014, yang membidangi Kementerian Pertahanan Indonesia, ucapan Nuning ada benarnya. Bulan Juni tahun 2014, Menteri Pertahanan RI saat itu, Purnomo Yusgiantoro, sempat menolak membeli alutsista dari Rusia, jika negara tersebut menolak mentransfer teknologi mereka pada Indonesia. Menurut Purnomo, Rusia mensyaratkan pembelian dalam jumlah besar agar mereka bisa melakukan ToT (Transfer of Technology) pada Indonesia, padahal anggaran militer Indonesia tak cukup banyak untuk memborong peralatan militer. Saat itu, Purnomo mengancam, jika Rusia tak bersedia ToT, maka Indonesia akan membeli alutsista dari negara blok timur lainnya.
Oktober 2014, Jokowi dilantik jadi Presiden RI. Dan tahun ini ia ke Rusia, melanjutkan pembicaraan soal pembelian dan kerja sama dalam bidang pertahanan dan keamanan. Namun pernyataan ajudan Kremlin, Yuri Ushakov, yang dikutip oleh Reuters pada 18 Mei 2016, tentang memproduksi senjata di bawah lisensi Rusia seperti menjadi sinyal positif, Rusia bersedia mendengarkan permintaan Indonesia. Bagaimana selanjutnya? Mari tunggu realisasi dan niat baik negeri Beruang Putih itu untuk mewujudkannya.