Jam Malam untuk Geng Motor
- Zahrul Darmawan/VIVA.co.id
"Kalau sanggup menculik, culik saja, yang penting tidak ketahuan buang ke laut atau kubur dalam-dalam," tulis poin keenam.
Belakangan Pangdam membantah soal pesan tersebut, bukan dari dia.
Kegeraman atas ulah geng motor juga dilontarkan oleh Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu atas penusukan Pratu Galang di Jawa Barat. Menurutnya, geng motor seperti itu harusnya sudah diberantas habis karena meresahkan masyarakat.
"Harus ditangkap semua itu. Geng-geng itu dihabisin saja," kata dia usai buka puasa bersama di rumah Megawati Soekarnoputri, Rabu 8 Juni 2016.
Merespons aksi brutal geng motor, Polda Jawa Barat, Selasa 7 Juni 2016, akhirnya membentuk tim khusus yang terdiri dari jajaran Direktorat Resor Kriminal Polda Jawa Barat dan Polres Kota Besar Bandung.
Kepala Bidang Humas Polda Jabar Kombes Pol. Yusri Yunus mengatakan tim bekerja dengan menggelar patroli dan razia di berbagai tempat untuk membekuk pelaku brutal geng motor.
"Seluruh jajaran Polda Jawa Barat melaksanakan patroli, khususnya di tempat rawan kelompok bermotor," tuturnya.
Sedangkan Kapolresta Depok, Ajun Komisaris Besar Harry Kurniawan, Minggu, 19 Juni 2016, mengimbau agar masyarakat lebih berhati-hati dan tetap waspada terhadap aksi kriminalitas.
"Kalau bisa hindari nongkrong sampai larut malam," kata dia.
Selanjutnya: Penyebab Munculnya Geng Motor
Embrio geng motor
Terkait dengan munculnya kembali aksi brutal geng motor itu, Guru Besar Kriminologi Universitas Indonesia, Adrianus Meliala mengakui keberadaan geng motor memang telah menimbulkan persoalan sosial baru.
Dia mengatakan kemunculan geng motor tidak datang dengan tiba-tiba. Adrianus melihat bibit kemunculan geng motor muncul saat ada sebuah aktivitas kumpul-kumpul atau nongkrong saat malam hingga dini hari. Aktivitas kumpul-kumpul antar pemotor, kata dia, bisa memunculkan bangunan jatidiri baru bagi kelompok tersebut.
"Jatidiri terbentuk dan kelompok pemotor lain pada saat yang sama juga membentuk jatidirinya juga," katanya.
Pengokohan jatidiri kelompok itu kemudian menimbulkan penolakan eksistensi kelompok lain, perasaan kelompok pemotor lain dan cenderung menolak keberadaan kelompok lain. Adrianus menyebutnya dengan istilah in-group feeling dan out-group feeling.
"Ini menimbulkan perasaan 'kami' dan 'mereka'. Perasaan 'kami' terbangun kuat sementara menganggap 'mereka' sebagai musuh," ujarnya.