Mimpi Buruk Twitter
- REUTERS/Lucas Jackson
Mungkin seperti saya, pengguna lainnya juga menunggu inovasi apa lagi yang akan diberikan Twitter. Dulu sempat diberitakan jika Twitter akan menghilangkan batasan karakter dalam cuitan, dari 140 karakter menjadi 1.000. Namun hal itu tak kunjung diberlakukan. Hanya rumor dan isu saja.
Lalu ada lagi keinginan Twitter untuk mulai beralih menjadi platform share berita. Namun secara tidak langsung hal itu sudah dilakukan oleh para penggunanya. Kebanyakan berita ‘breaking’ yang ada di media saat ini selalu didahului dengan mengutip laporan netizen di Twitter.
Yang paling mengkhawatirkan dan perlu ditelusuri adalah kualitas dari akun baru pengguna Twitter. Saya pribadi tidak terlalu peduli berapa follower saya di Twitter, karena saya bukan selebtwit yang ingin meracuni follower dengan rayuan iklan terselubung.
Namun jika dilihat, dari 1.500 lebih follower saya, lebih dari 50 persennya orang yang saya tidak kenal, yang tidak menyertakan foto profil sehingga saya yakin jika itu adalah akun bot. Bisa jadi, Twitter menjadi sarang bot, sarangnya akun palsu, spammer.
Ini yang membuat investor secara tidak langsung mempertanyakan 300 juta pengguna Twitter itu merupakan akun asli atau palsu. Satu-satunya fitur baru yang ada di Twitter adalah integrasi dengan Periscope. Namun euforianya tidak berlangsung lama.
Salah satu penulis senior dalam majalah Fortune, Mathew Ingram menganalisa, dinamika Twitter adalah kisah keberhasilan sekaligus kegagalan. Dalam episode keberhasilan, bisa dilihat perusahaan telah mampu mengelola nilai perusahaan hingga menjadi US$17 miliar yang dipakai lebih dari 300 juta pengguna di seluruh dunia.
Namun demikian, Twitter juga mengalami episode buruk, yakni gagal mengkapitalisasi dan mengelola dengan baik pertumbuhan perusahaan. Artinya, Twitter hanya menguntungkan end-user tapi tidak tahu bagaimana cara menyenangkan para pemilik modal.
Kegagalan Twitter juga dilihat dari peran Dorsey, yang saat ini sebenarnya menduduki dua kursi CEO. Selain menakhodai Twitter, Dorsey juga menjadi CEO perusahaan mobile, Square. Hal ini dipandang turut berkontribusi bagi kegagalan mendongkrak performa perusahaan.Â
Peran CEO ganda  Dorsey itu mendapat soroan dari investor legendaris, Bill Miller.  Dia mengatakan dengan menjadi CEO dua perusahaan, menurutnya akan sangat menyulitkan bagi perusahaan yang dikembangkan.Â