Mengoptimalkan Aset Negara

Bareskrim Polri geledah kantor Kementerian Keuangan
Sumber :
  • VIVA.co.id/Moh Nadlir

Hal senada diungkapkan, Ani, sapaan akrab Sri Mulyani. Menurut dia, tugas DJKN jangan sekadar penginventarisasi aset-aset negara. Tapi, harus menjadi seorang manajer profesional, yang mampu mengelola aset serta kekayaan negara, dan menghasilkan sesuatu bagi negara.

img_title Kabar Sri Mulyani Masuk Kabinet Santer, Apa kata Pasar?

"Akan sangat sayang kalau banyak aset-aset negara yang idle (nganggur), sia-sia. Dalam ekonomi itu opportunity lost, yakni hilangnya kesempatan untuk memanfaatkan. Jadi bagaimana kita memikirkan aset itu agar bisa berguna untuk kepentingan masyarakat," kata Ani.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Bahkan, dia menganggap bahwa aset negara yang dibiarkan saja tanpa adanya aspek pemanfaatan, hal itu sama saja dengan merugikan keuangan negara.

img_title Buronan BLBI Samadikun Ditangkap, PD Tagih Janji Jokowi

"Makanya saya menegaskan the best and the highest use. Kalau ada lokasi (tanah sebagai aset negara) dibiarkan saja dan tidak ada nilai ekonomisnya, itu sama dengan merugikan keuangan negara," ujarnya. 

Tertib Pembukuan

img_title Rp2,5 Triliun Disiapkan Pemerintah untuk Bank Tanah

Oleh karena itu, untuk mengoptimalisasi aset negara tersebut, tugas dari DJKN tidaklah mudah. Menkeu meminta agar jajaran DJKN jangan sampai mengesampingkan perihal tata tertib pembukuan, tertib sertifikasi, dan evaluasi dalam menjalankan kinerjanya.

Dia juga mengajak seluruh jajaran DJKN untuk membentuk pola pikir sebagai pengelola aset negara, guna mengoptimalisasikan aset tersebut bagi kepentingan perekonomian bangsa.

"Untuk menjadi pengelola aset negara, kita harus mulai dengan mindset baru, yakni mengoptimalisasikan. How to manage your assets," katanya. 

Menurut dia, aset akan menjadi suatu hal yang memberikan kegunaan bagi ekonomi Indonesia, apabila dikelola dengan pola pikir sebagai manajer aset. Untuk itu, dalam masa 10 tahun umur DJKN, sudah waktunya menggunakan pola pikir sebagai manajer aset negara yang memiliki tanggung jawab dan risiko begitu besar.

"Tentunya hal itu berbeda sekali dengan kultur birokrasi yang hanya menjaga ketertiban administrasi. Karena, manajemen aset adalah sesuatu yang penuh risiko, dan butuh kesamaan pengelolaan beberapa pihak kelembagaan negara lainnya," kata dia. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Selain itu, Ani melanjutkan, sebagai manajer aset negara, seluruh jajaran DJKN harus memiliki integritas, baik dalam wilayah pribadi maupun institusi.

Kondisi ini, menurut dia, sangat penting, karena merupakan refleksi kemampuan dan kualitas sumber daya, untuk mewujudkan manfaat maksimal dari pengelolaan aset negara tersebut.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut