Aura Cinta Kritik Kebijakan Penggusuran Rumah Liar di Pinggiran Sungai, Dedi Mulyadi: Anda Miskin Tapi Jangan Sok Kaya
- TikTOk @iam_auracinta
Bekasi, VIVA – Nama Aura Cinta tengah menjadi sorotan usai remaja asal kabupaten Bekasi itu mengkritik keras kebijakan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Ia menolak pelarangan study tour atau wisuda perpisahan siswa tingkat akhir di sekolah. Bukan cuma itu saja, Aura Cinta juga mengkritik penggusuran terhadap rumah yang berdiri di atas tanah negara.
Video Aura Cinta Kritik Penggusuran Rumah dan Menolak Study Tour
Aura Cinta dalam akun TikTok pribadinya, tampak duduk di tengah proyek penggusuran bangunan-bangunan liar di bantaran sungai.
"Ingat Jabatan Cuma Sementara. Kalian punya kuasa, tapi enggak punya hati. Anak-anak kecil harus lihat rumahnya dirubuhin gara-gara keputusan kalian yang duduk enak di balik balik meja. Jabatan kalian bakal habis! tapi trauma mereka enggak akan pergi," tulis caption di akun TikTok @iam_auracinta.
Dalam video yang diunggah Aura Cinta itu, menurutnya kebijakan-kebijakan Gubernur Jabar itu menindas rakyat kecil seperti dirinya.
"Katanya pembangunan, tapi yang dikorbanin rakyat kecil, proyek-proyek besar terus diluncurin, mulai dari larangan motor, sekolah tanpa wisuda, bahkan bendungan yang bikin warga terusir dari rumahnya," kata Aura Cinta dalam video TikToknya.
"Katanya untuk rakyat, tapi kenapa justru rakyat kecil yang dikorbanin, kadang gua tuh mikir, apa benar ini buat kemajuan, atau cuma sekadar validasi aja biar keliatan beda dan dicap hebat sebelumnya," sambungnya.
Ia juga mengarahkan kamera ke rumahnya yang berada di bantaran sungai dan sudah rata dengan tanah karena dianggap liar.
Dedi Mulyadi Panggil Aura Cinta
Dedi Mulyadi pun memanggil dan mengumpulkan para korban penggusuran rumah bantaran sungai, termasuk Aura Cinta.
Dalam pertemuan secara langsung dengan Dedi Mulyadi, Aura Cinta memprotes penggusuran karena dianggap tanpa diawali musyawarah. Dia juga meminta keadilan.
"Captionnya bukan untuk meminta kerohiman atau apapun, saya cuma minta keadilan, waktu digusur tak ada musyawarah, cuma ada Satpol PP datang," kata Aura Cinta.
Dedi Mulyadi langsung menjawab protest Cinta. Menurutnya, rumah yang menempati tanah bukan haknya merupakan pelanggaran.
"Saya balik pertanyaannya, tinggal di tanah orang lain bayar enggak sama yang punya tanah? Kalau saya balik nuntut, pemdanya suruh minta tagihan, dihitung berapa tahun ke belakang bayar tiap tahun," balas Dedi Mulyadi.
Namun Aura Cinta belum puas dengan jawaban Dedi Mulyadi dan meminta Gubernur Jabar tersebut untuk melihat kondisinya. Menurutnya, ia merupakan golongan yang tidak mampu alias miskin.
Pernyataan itu kemudian membuat Dedi Mulyadi geram. Pasalnya, Aura Cinta juga mengkritik kebijakan Dedi Mulyadi yang melarang study tour yang diadakan pihak sekolah.
Remaja itu menyampaikan bahwa perpisahan sekolah bukan sekadar soal biaya, melainkan soal momen kebersamaan dengan teman-teman.
"Kalau nggak ada perpisahan, kita nggak bisa kumpul bareng, interaktif sama teman-teman, Pak," kata Aura Cinta.
Namun, Dedi tetap kukuh mempertahankan keputusannya. Menurutnya, kenangan sekolah tidak hanya tercipta lewat satu acara perpisahan, melainkan selama bertahun-tahun proses belajar.
"Kenangan itu bukan pada saat perpisahan. Kenangan indah itu saat belajar tiga tahun," tegas Dedi.
Saat remaja tersebut merasa kebijakan ini tidak adil, Dedi menawarkan solusi: mengadakan perpisahan secara mandiri tanpa melibatkan sekolah agar tidak membebani guru dan kepala sekolah yang sering kena tekanan soal pungutan.
"Kumpul-kumpul aja sama teman. Tapi jangan bawa-bawa sekolah," saran Dedi Mulyadi.
Dalam kesempatan itu, Dedi juga menyinggung soal prioritas kritik. Ia mengingatkan bahwa lebih penting mengkritik kebijakan yang benar-benar memberatkan ekonomi rakyat, bukan sekadar soal seremonial.
"Banyak rakyat miskin, nggak punya rumah lagi, rumahnya di bantaran kali, tapi sekolahnya gaya-gayaan ada wisuda," sindir Dedi.
Menurutnya, kegiatan perpisahan tetap bisa diadakan secara sederhana dan kreatif, misalnya lewat pertunjukan seni di sekolah yang digagas oleh OSIS, tanpa membebani keuangan orang tua.
"Anda miskin tapi jangan sok kaya," tegas Dedi.