Panggilan di Tengah Malam
- U-Report
Setelah beberapa kali mencoba dan dengan sedikit bantuan perkakas akhirnya resleting itu lepas juga. Bu Aat lega dan sambil menangis dia mengucapkan terima kasih berkali-kali kepada saya. Saya hanya mengangguk-angguk sambil menatap telapak tangan saya yang habis “membedah”.
Kejadian lain yang bikin saya geleng-geleng kepala adalah kejadian di bulan lalu. Ceritanya saat saya baru pulang ke rumah sekitar jam 10 malam. Ketika baru sampai dan lagi asyik tidur-tiduran, tiba-tiba ada dua orang berpakaian seperti sales datang ke rumah. Saya membukakan pintu dan sejurus kemudian mereka bertanya, "Benar ini rumahnya Stefanus Sani?" Saya langsung menjawab, "Oh, iya benar. Ada apa ya?”
Sekilas mereka seperti sales kwaci deh. "Kami dari B** Swalayan mau mengucapkan selamat kepada Pak Stefanus karena Bapak telah memenangkan undian dari kami," ujar orang tersebut. Seriusan? Saya menang hadiah? Hadiah utama? Hadiah utamanya kan mobil! Saya ingat kalau saya pernah masukkin struk belanja ke kotak undian di swalayan. Waktu itu saya belanja mie instant dan sabun dalam kelipatan 30 ribu. Dan gara-gara 30 ribu, saya bisa dapat mobil?!
Wooooowwwwwwww!! Jantung saya berdegup kencang. Saya ngebayangin mobil itu saya pakai jalan-jalan bareng gebetan. "Selamat ya, Pak" kata si petugas sambil memberikan sebuah dus kecil ke saya. Loh kok dus kecil? Apa ini isinya kunci mobil dibungkus pakai dus bekas susu gitu?
Saya mencoba menganalisis sebentar. Sedikit bernafsu, saya pun membuka kotak itu dan hadiahnya ternyata sebuah kotak tisu berlogo. Yang sampai sekarang saya enggak habis pikir adalah kenapa kalau hadiahnya hanya kotak tisu, untuk apa mereka antar sampai ke rumah saya? Jam 10 malam pula. Enggak usah dikasih ke saya juga tidak apa-apa sebenarnya.
Belajar dari kejadian-kejadian tadi, belakangan ini saya jadi selalu waspada kalau tiba-tiba ada yang mencari saya. Bukan apa-apa, saya takut tidak bermutu lagi dan saya rada cermat kalau tiba-tiba ada yang mengajak ketemuan di malam hari.
Tiga hari yang lalu, saat saya sedang asyik-asyiknya baca buku Pramoedya Ananta Toer sambil dengerin lagu Incognito, tiba-tiba tetangga depan rumah saya mengirim BBM. "De, ada di rumah?". Pertanyaan itu dilanjutkan dengan PING nyaris 10 kali. Pilihan saya ada 2, pura-pura tidak baca atau membalas BBM ini.