Jadi Dewa Mabuk Sehari
- U-Report
Rasanya? Tidak usah ditanya. Pahitnya lebih pahit dari jamu kencur datang bulan yang biasa diminum mama saya. "Serius, loe belum pernah minum?" tanya teman saya heran setelah saya cerita kalau saya sebelumnya tidak pernah minum minuman beralkohol. "Gue pertama kali minum itu pas umur 19 tahun bla....bla....".
Bram mulai melanjutkan cerita tentang pertama kali dia minum minuman beralkohol ketika berumur 19 tahun. Teman saya sudah doyan minuman beralkohol di usia 19 tahun, saya langsung flashback ketika saya masih berumur 19 tahun. Saat itu saya lagi demen-demennya minum Pop Ice campur susu di dekat rumah saya.
Entah memang begini etikanya atau mereka sedang ngerjain saya, tiap sloki saya kosong pasti langsung dituang lagi sama teman-teman saya. Dan tiap sloki saya penuh, pasti langsung diajak tos buat dihabiskan. Kepala saya sudah mulai pusing, perut saya sudah mulai bergejolak. Pagi tadi kan saya makan nasi jamblang, dan entah kenapa nasi jamblang di perut saya terasa diputar-putar sama vodka ini.
"San, loe karaoke ya sekarang. Gue sawer nih," kata Bram sambil meletakkan uang 300 ribu ke atas meja. Dua teman saya yang lain juga meletakkan uang 300 ribu ke atas meja. Total ada uang 900 ribu di atas meja saya. Seperti yang saya bilang, selain menjadi tempat makan, tempat ini juga bisa dijadikan tempat karaoke karena terdapat layar besar. Jadi kalau kita nyanyi, semua orang yang makan di sini juga bakalan dengar.
Saya sekarang merasa bimbang. Serius bimbang. Bayangin saja, cuma nyanyi satu lagu saja, saya bakalan disawer 900 ribu! Lagunya juga kebetulan saya bisa banget! Tapi, saya cukup sadar diri buat bilang kalau suara saya jelek. Saya pikir kalau saya nyanyi kan banyak orang yang sedang makan di sini. Bagaimana kalau mereka mual-mual terus pergi dari tempat ini gara-gara saya nyanyi? Terus ujungnya saya bakalan dituntut sama pihak restoran gara-gara meracuni pengunjung dan membuat restoran menjadi sepi. Akhirnya saya urungkan niat saya buat menyanyi solo.