Marcus Tugiman, Mantan Pembalap Nasional yang Jadi Pemulung
- u report
"Sedih dan menangis saya waktu itu, tapi bagaimana lagi takdir sudah begitu," ujar MT lirih.
Sejak itu MT total undur diri dari balap sepeda. Di dadanya mengeram rasa sesal, sedih, geram, kecewa, dan jengkel yang campur aduk jadi satu. Setelah itu MT memilih jalan hidup dengan mengayuh becak.
Bermodal mata pencaharian sebagai tukang becak itu, MT lalu menikah dan membangun keluarga. Seiring bertambahnya usia, tenaganya mulai renta. MT pun berganti menjadi pemulung sampai kini. Tempat-tempat kotor dikaisnya untuk mendapat barang rongsokan dan bisa dijual.
Pola hidup bergelut di tempat kumuh kotor berdampak fatal bagi kesehatan MT. Tak disadarinya, kedua tangan dan kakinya dirambati jamur kusta. Makin lama makin parah, membuat tangan dan kaki MT kini invalid. Sakit Kusta MT kian kronis, karena selama ini nyaris tak pernah berobat. Itu disebabkan karena tak adanya biaya karena faktor kemiskinan, ditambah juga keengganan MT mencari kesembuhan. "Biarlah begini, saya sudah tua," ucap MT tentang sakit kustanya.
Balada hidup MT pun didengar pengurus ISSI Jawa Tengah. ISSI memutuskan akan membantu meringankan hidup MT, dengan merehab rumah MT yang berantakan bak kandang sapi.
Ia juga akan diberikan sejumlah dana, tanda terima kasih ISSI pada eks atlet yang pernah mengharumkan nama Jateng di kancah olahraga itu. "Mungkin hidup saya tak begini jika saat itu saya pindah ke PBS Marinir Surabaya atau PBS Lampung," guman MT. Demikianlah, manusia boleh berencana, tapi Tuhan yang menentukan. (Tulisan ini dikirim oleh Heru Christiyono Amari, Pati, Jawa Tengah)