Kelenteng Hok Tek Tong Jepara Diselamatkan Keluarga Oh

Klenteng Hok Tek Tong di Jepara yang kini kehabisan umat.
Sumber :

VIVA.co.id – Klenteng Hok Tek Tong tergolong kuil kecil dan riwayatnya tak se-heroik klenteng lain di Jawa atau di Indonesia, bahkan usianya baru sekitar 150 tahun (relatif muda). Namun, keberadaannya di seberang Pendopo Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, sebagai penanda bahwa warga Tionghoa setempat yang mendirikan kuil ini sudah ada sejak ratusan tahun silam.

img_title Wujud Toleransi, Selawatan Maulid Nabi Diadakan di Vihara Malang

Kuil Hok Tek Tong yang bermakna 'Mengasihi sesama', nyaris punah secara batin maupun lahir. Tapi, berkat Keluarga Oh, dermawan dari Salatiga, klenteng ini terselamatkan. Setelah sebelumnya berhasil dipugar, kini tengah ditambah bangunan baru berupa sebuah vihara. Informasi dan cerita mengenai Hok Tek Tong didapat dari Eddy Yuwono dan Yohan S, dua orang penjaga/perawat klenteng (bio-khong). Keduanya, siang malam bersama-sama menunggui dengan setia klenteng tersebut.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Belum tentu setiap hari ada tamu datang untuk bersembahyang atau berziarah, karena banyak warga Tionghoa di daerah ini (Jepara) yang sudah memeluk kepercayaan (agama) lain. “Mereka tidak perlu bersembahyang di klenteng lagi,” tutur Eddy Y dengan nada perlahan. Yohan S rekannya yang orang pribumi, mengiyakan dengan anggukan kepala.

img_title Menyusuri Singkawang, Tiongkok Masa Silam

Sebelum pecah peristiwa berdarah Gerakan 30 September oleh PKI pada tahun 1965 silam, Klenteng Hok Tek Tong masih dikunjungi warga Tionghoa untuk bersembahyan atau melakukan ritual peribadatan tertentu untuk kepentingan khusus. Namun, setelah peristiwa berdarah itu terjadi, pengunjung klenteng susut total. Warga Tionghoa Jepara takut ke klenteng. Sebagian lagi pindah keluar kota seperti Jakarta, Surabaya, dan lain-lain. Meski saat itu klenteng diubah menjadi vihara, sesuai ketentuan dari pemerintah, tetapi tetap saja kuil ini tidak diziarahi warga Tionghoa setempat.

Bertahun-tahun klenteng kecil Hok Tek Tong pada waktu itu dibiarkan merana. Kondisi luar dalamnya tidak terurus. Beberapa waktu bahkan pernah sama sekali tidak mempunyai bio-khong. “Keadaannya ketika itu benar-benar sangat memprihatinkan,” ujar Eddy Y.  Namun, seiring perjalanan waktu dan perkembangan politik yang mulai membaik. Terutama saat Orde Baru diganti Era Reformasi, warga Tionghoa di Jepara maupun luar Jepara mulai berani turun tangan. Mereka gotong-royong membenahi Hok Tek Tong yang kondisinya parah.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
img_title Pergilah Dinda Cintaku
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut