Lirboyo dan Islah PBNU
- Dok. Pribadi
Memang Lirboyo seksis. Seperti KH. Ulil Abshar Abdallah dalam pernyataannya berharap agar “keramat Lirboyo” dapat menyelesaikan persoalan PBNU dengan islah. Sebagai mantan dedengkot JIL (Jaringan Islam Liberal) dan politisi Partai Demokrat tentu saja Kiai Ulil agaknya sedang bermain framing “karamat Lirboyo” untuk kepentingan kubunya. Kita tahu bersama bahwa Kiai Ulil sebagai menantu Gus Mus sedang berjuang untuk Gus Yahya sebagai sepupu iparnya.
Selain Ulil, Prof. Dr. Rumadi dan Ahmad Suaedy garda depan pendukung Gus Yahya pun gencar mendorong Islah di Lirboyo di medsosnya dengan menutup mata atas substansi dua persoalan yang dijadikan alasan Rois Am dan Suriyah untuk memecat Gus Yahya. Masih segar dalam ingatan publik tentang Ahmad Suaedy yang sempat mengunggah di medsosnya foto bersama Peter Berkowitz. Ada dua foto yaitu foto dirinya bersama Peter Berkowitz dan foto sekelompok kiai di antaranya ada KH. Ulil Abshar Abdalla, KH. Ahmad Ginanjar Sya’ban dan yang lain bersama Peter Berkowitz yang di kemudian hari dijadikan foto utama di setiap media dalam pemberitaan Peter Berkowitz sang tokoh zionis yang mengisi di Akademi Kepemimpinan NU (AKN-NU) PBNU.
Dalam gejolak politik—baik politik kepartaian maupun keormasan atau perkumpulan lain—relasi kuasa sering kali dimanfaatkan oleh para petualang politik untuk memenangkan kepentingannya tanpa memperhatikan substansi. Segala hal yang dianggap memiliki nilai tinggi dan mulia di mata masyarakat banyak, baik bersifat spiritual, kharisma atau pengaruh, agaknya ‘rentan’ untuk dimanfaatkan dalam meraih simpati oleh pihak tertentu.
Saya jadi teringat pada peristiwa perang Siffin. Pasukan Mu’awiyah sudah terdesak dan hampir kalah oleh pasukan Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Lalu Mu’awiyah memiliki ide untuk mengangkat Al-Quran sebagai tahkim, arbitrase, sehingga Sayyidina Ali menghentikan peperangan demi menghormati Al-Quran. Apa yang terjadi kemudian bahwa itu ternyata adalah modus politisasi Al-Quran untuk mengentikan sahabat Ali dan pasukannya. Kemudian kelompok Ali bin Abi Thalib dikalahkan, dan Mu’awiyah berhasil menduduki singgasana pemimpin dan mendirikan Dinasti Mu’awiyah atau Umayyah. Inilah politik menghalalkan segala cara, bahkan Al-Quran pun dijadikan alat politik mengalahkan lawan. Dan ini pula gambaran relasi kuasa dijadikan alat membungkam dan agar terjadi kepatuhan massal, padahal di dalamnya modul culas.