Perang Petani Malang Melawan Tikus
- VIVA.co.id/D.A Pitaloka
Melepas ular untuk menghabiskan tikus pernah dicoba, meskipun tak berlanjut. Keberadaan ular yang sempat di lepas di sawah, tak lagi dijumpai petani tak lama setelah ular di lepas.
Samsi juga selalu menebar pupuk kandang berupa kotoran kambing, dicampur dengan air kencing kambing di ladangnya untuk mengusir tikus.
“Ular itu kami beli, kami lepas, tetapi sepertinya banyak pemburu yang menangkap ularnya untuk dijual," katanya.
Upaya yang paling akhir adalah dengan membangun rumah burung hantu atau pagupon, di antara petak-petak sawah di Desa Karangsuko.
Sudah dua bulan terakhir, ada banyak rumah burung berdiri di tengah petak sawah. Ada yang membangunnya khusus dengan menancapkan tiang pancang dari beton, atau kayu setinggi tujuh meter.
Ada pula yang memanfaatkan pohon randu di tengah pematang sawah dan meletakkan rumah burung di puncak pohonnya. Petani membangunnya secara swadaya, tanpa menggunakan anggaran dari pemerintah.
“Rumah itu untuk mengundang burung hantu datang dan memangsa tikus saat malam,” lanjut pria yang menghabiskan sekitar 30 tahun usianya sebagai petani itu.
Dua bulan berdiri, Samsi mengingat, dia sempat menemukan bangkai tikus di pematang sawah. Rata-rata terkoyak di bagian tubuh.
Burung Hantu tak rakus, hanya memakan hati tikus dan meninggalkan bangkai sebagai bukti buruannya pada petani.
Namun, dia tak lagi menemukan bangkai tikus di sekitar petak sawahnya beberapa pekan terakhir. Samsi berharap, itu karena jumlah tikus tak sebanyak pada saat pagupon belum dibangun.
Meskipun dia juga khawatir burung hantu yang bersarang di pagupon itu saat ini tak lagi pulang ke sarang yang sama.
“Ada pemburu burung yang menangkap burung hantu dan menjualnya. Tetapi tikus memang tak sebanyak dulu sejak ada pagupon ini,” katanya.
Basmi dengan adat lokal
Berbeda dengan di Kabupaten Malang, petani di Kota Malang, banyak menggunakan adat lokal untuk membasmi hama tikus.
Petani mengantisipasi musim kemarau di masa tanam April ini, meskipun cuaca tak bisa diprediksi lagi.
“Kalau kalendernya ini masuk musim kemarau, hama tikus semakin ganas, karena mereka suka lahan yang tak tenggelam dengan air,” kata Hanafi Afandi, Ketua Kelompok Tani dan Nelayan Andalan Kota Malang (KTNA), Rabu 27 April 2016.
Hama tikus disebutnya hama yang paling susah dibasmi. Kota Malang dengan lahan baku sawah 1.214 hektare itu sekitar 60 persennya telah menggunakan irigasi teknis.